Rabu, 29 Agustus 2018

Adzan Suara Panggilan Tuhan

ADZAN, BUKAN PANGGILAN BIASA
*ONE DAY ONE HADITH*

Diriwayatkan dari Ka’b bin Ujrah, bahwasanya seorang tuna netra mendatangi Baginda Rasulullah SAW dan berkata “Wahai Rasulallah, Aku mendengan Adzan namun terkadang aku tidak menemukan orang yang menuntunku. Maka Rasul SAW bersabda :
فَإِذَا سَمِعْتَ النِّدَاءَ فَأَجِبْ دَاعِيَ اللَّهِ
“Jika engkau mendengar suara adzan (diserukan), maka penuhilah penyeru Allah itu” [HR Thabrani].

_Catatan Alvers_

Masih ingat syair ini? “Aku tak tahu syariat Islam. Yang kutahu suara kidung Ibu Indonesia, sangatlah elok. Lebih merdu dari alunan azan mu. Gemulai gerak tarinya adalah ibadah. Semurni irama puja kepada Illahi. Nafas doanya berpadu cipta”.

Itulah sepenggal puisi Ibu Sukmawati yang dibacakan dalam acara Indonesia Fashion Week yang langsung menjadi viral di medsos karena dianggap menista agama dengan melecehkan adzan dengan membandingkannya dengan hal lain. Sontak, sejumlah ormas dan pengacara bereaksi keras dengan melaporkannya ke Polda Metro Jaya.

Sehari kemudian ibu sukmawati muncul ke publik untuk meminta maaf kepada umat Islam atas polemik puisinya. Ia berkata "... dengan ini dari lubuk hati yang paling dalam, saya (Sukmawati menangis-red) mohon maaf lahir dan batin kepada umat Islam Indonesia khususnya bagi yang merasa tersinggung dan berkeberatan dengan puisi 'Ibu Indonesia'. " [detik com]

Lantas ada apa dengan adzan? mengapa begitu keras reaksi ummat islam menyikapi hal itu? Seberapa muliakah kedudukan adzan dalam islam?. Inilah pertanyaan yang banyak terbesit dalam hati netizen mengamati puisi kontroversial tersebut sehingga saya anggap penting mengangkat tema adzan ini.

Dalam islam, Adzan bukanlah sekedar tanda masuknya waktu shalat tetapi ia adalah panggilan Allah sang Maha Besar. Rasul SAW bersabda dalam hadits utama di atas : “Jika engkau mendengar suara adzan, maka penuhilah penyeru Allah itu” [HR Thabrani].
Bahkan dalam hadits lain, adzan disebut dengan “panggilan yang sempurna”. Rasul SAW bersabda : Barangsiapa yang ketika mendengar adzan ia mengucapkan :
اللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ وَالصَّلَاةِ الْقَائِمَةِ آتِ مُحَمَّدًا الْوَسِيلَةَ وَالْفَضِيلَةَ وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُودًا الَّذِي وَعَدْتَهُ
“Ya Allah, Rabb panggilan yang sempurna ini serta shalat yang didirikan anugerahilah Nabi Muhammad wasilah dan keutamaan. Tempatkanlah ia pada kedudukan yang mulia sebagaimana Kau janjikan.”
Niscaya dia layak mendapat syafa’atku pada hari Kiamat. [HR Bukhari]

Adzan adalah panggilan yang terbaik. Allah swt berfriman :
وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ...
Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah... [QS Fushshilat : 33]

Sayyidah A’isyah RA berkata : orang yang menyeru kepada Allah adalah Muadzdzin (orang yang adzan) Tatkala ia berkata “Hayya Alas Sholah” maka sungguh ia telah menyeru kepada Allah. Dan Ibnu Umar RA berpendapat bahwa ayat tersebut memang turun berkenaan dengan orang yang adzan [Tafsir Ibnu Katsir] dan ada 4 Tingkatan penyeru ke jalan Allah. Pertama, Para Nabi dengan Mukjizatnya, Kedua Para Ulama dengan Hujjahnya, Ketiga Para Mujahid dengan kekuatannya dan ke empat adalah Muadzdzin dengan suaranya menyeru kepada Jalan Allah swt. [I’anatut Thalibin]

Dengan demikian maka kita ketahui bahwa adzan bukanlah panggilan biasa, karena adzan merupakan panggilan sempurna dari dzat yang maha sempurna, Penguasa semesta Alam Allah swt. Jika demikian, layakkah diremehkan bahkan dilecehkan?. Coba kita bayangkan, jika seseorang mendapat panggilan undangan dari seorang raja atau presiden untuk diberi hadiah dan penghargaan? Apakah undangan tersebut bernilai biasa? Dengan perasaan yang biasa-biasa pula?

Pastilah tidak! Ia akan mengagungkan panggilan tersebut bahkan boleh jadi ia akan mengabadikan undangannya. Lantas bagaimanakah dengan panggilan adzan yang mulia dari dzat yang maha mulia, untuk diberikan hadiah yang mulia nan istimewa? “Hayya Alal Falah” (marilah menuju keberuntungan).
Panggilan adzan itu merupakan panggilan keberuntungan. Bagaimana tidak, panggilan raja hanya akan mendatangkan sekeping emas namun Panggilan Allah akan mendatangkan gunung emas dan permata yang tak ternilai harganya karena balasannya adalah surga. Nabi SAW bersabda : “Apabila penyeru adzan mengucapkan Allahu Akbar, Allahu Akbar maka salah seorang dari kalian menjawab Allahu Akbar, Allahu Akbar dst...sampai tatkala muadzin mengucapkan, Laa ilaahaa illallah maka dia menjawab, Laa ilaaha illallahu dengan setulus hatinya, maka ia akan masuk surga.”[HR. Muslim]

Panggilan adzan itu bukanlah panggilan biasa karena itu setanpun lari mendengarnya. Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda :
إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ أَدْبَرَ الشَّيْطَانُ وَلَهُ ضُرَاطٌ حَتَّى لَا يَسْمَعَ التَّأْذِينَ فَإِذَا قَضَى النِّدَاءَ أَقْبَلَ
Jika adzan dikumandangkan maka setan lari berpaling sambil terkentut-kentut dengan keras sehingga ia tidak mendengar adzan. Dan jika seruan adzan selesai, dia datang lagi. [HR Bukhari]

Sebagai sebuah panggilan untuk menunaikan sholat, Adzan disunnahkan untuk dikumandangkan dengan keras, hal ini berbeda dengan adzan untuk bayi yang dibaca secara pelan[Lihat I’anatut Thalibin]. Di zaman Rasul, Adzan dikumandangkan dari tempat yang tinggi. Ummu Zaid bin Tsabit berkata :
كان بيتي أطول بيت حول المسجد فكان بلال يؤذن فوقه من أول ما أذن إلى أن بنى رسول الله صلى الله عليه وسلم مسجده فكان يؤذن بعدُ على ظهر المسجد وقد رفع له شيء فوق ظهره
Rumahku adalah rumah paling tinggi yang berada di sekitar masjid (Nabawi), maka Bilal mengumandangkan adzan dari atas rumahku dari masa permulaan adzan sampai Rasul SAW membangun masjidnya. Barulah setelah itu, Bilal adzan dari atas dataran tinggi dari masjid yang mana disitu ditinggikan. [Thabaqat/Tafsir Haqqi]

Ada sebuah perbincangan menarik antara muslim dan non muslim mengenai adzan dengan suara keras. Non muslim (NM) bertanya : “Kenapa kalau adzan harus dibunyikan keras-keras dengan speaker pula?”. Muslim (Ms) :  “Bro, adzan itu adalah panggilan sholat, pasti dong namanya panggilan tidak mungkin dengan cara yang sama seperti berbicara atau berbisik-bisik”. NM : “Tapi kan di orang-orang sekitar tidak semuanya muslim?”. Ms: “Benar. Bro, kita sekarang sedang ada di bandara, dengar kan announcement bandara selalu memberikan panggilan boarding? Apakah kamu juga mempertanyakan ke mereka mengapa melakukan panggilan boarding pesawat yang lain keras-keras padahal bukan panggilan pesawatmu?”. NM : “Tapi kan hari gini semua orang sudah tahu dengan teknologi jam berapa waktu sholat apa, apa masih harus adzan keras-keras?”. Ms: “Ya setiap penumpang juga kan sudah tau jadwal penerbangannya sejak pesan dan memegang tiket, kemudian check-in, sudah tercetak jadwal keberangkatannya di boarding pass, sudah masuk ruang tunggu, tapi tetap bandara melakukan panggilan boarding bukan? Dan ada satu hal lagi mengapa adzan harus dikumandangkan, itu bukan hanya sebagai penanda sudah masuk waktu sholat tapi benar-benar panggilan sholat, karena kami harus menyegerakan sholat. Sama halnya semua penumpang harus menyegerakan masuk pesawat setelah panggilan boarding, walaupun masih ada waktu naik pesawat sampai pesawat tutup pintu”. Mendengar jawaban ini NM tersenyum lebar dan setengah memeluk sambil menepuk-nepuk bahu Ms dan NM berkata : “Super, I got it bro“ [swamedium com]

Selanjutnya, marilah kita introspeksi diri kita sendiri jangan-jangan kita juga melecehkan adzan karena bermalas-malasan mendatangi panggilan adzan bahkan cuek dan pura-pura tidak mendengarnya. Kita sangat perhatian kepada panggilan di bandara karena tidak rela ketinggalan Pesawat Sementera tidak menghiraukan adzan sehingga ketinggalan sholat. Astagfirullah. Wallahu A’lam. Semoga Allah Al-Bari membuka hati kita untuk lebih semangat dan istiqamah menjawab dan mendatangi panggilan Allah untuk sholat lima waktu.

Salam Satu Hadits
Dr.H.Fathul Bari,SS., M.Ag

Kajian Hadits
ONE DAY ONE HADITH
GROUP WA ALVERS
Sistem SPA+
✔S Singkat
✔P Padat
✔A Akurat
✔A Aktual
SEGERA MILIKI BUKUNYA
Pemesanan Hub.
CP. Ust. Muadz
0812-1674-2626
Bisa kirim ke seluruh indonesia

Ayo Mondok di
*Pesantren Wisata*
AN-NUR 2 AL-MURTADLO
Malang Jatim
Pesantren ahlus sunnah wal jamaah NU yang mengajarkan KITAB KUNING dengan metode quantum learning,
✔1 tahun dapat baca kitab (kelas 2 SMP) dan
✔hafal fathul qarib
✔tersedia kelas tahfidz
✔Sekolah tinggi ilmu kitab kuning
✔Sekolah formal di dalam pondok (MI-SMP-SMA-S1-Pasca)

dengan LOKASI yang didesain dengan nuansa yang asri dan dilengkapi beberapa wahana layaknya wisata seperti
✔Flying fox,
✔rumah pohon,
✔terapi ikan,
✔mini zoo
✔replika baytur rosul
✔monumen cincin rasul
✔dll .

Fasilitas
ONE STOP SERVICE
di dalam lokasi pondok :
✔Bank BNI
✔Atm BNI, Atm BRI Syariah,
✔layanan keuangan Mobile
✔pertokoan, kantin dll

ANNUR 2 (Cahaya Dzohir Bathin, Wisata Jasmani dan Rohani)
Pendaftaran :
Info
0341-833235
annur2 net

Kamis, 26 Juli 2018

Kebaikan Gus Dur Tidak Ingin Terlihat

Masihkah meragukan Gus Dur....

INILAH YANG KAMI SEBUT SEORANG MALAMATIYAH.
Orang yang tidak ingin kebaikannya diketahui orang lain, justru menampakkan keburukan agar dicaci maki sehingga kadar kedekatannya dengan Allah tidak diketahui satu makhluk pun.

SEBUAH TELADAN:

*KH. Marzuki Mustamar : Gus Dur Tidak Ingin Kebaikannya Dibicarakan Orang*

Inilah alasan mengapa Gus Dur sering ke gereja dan dekat dengan non-muslim, oleh KH. Marzuki Mustamar.

Tadi malam saat memberikan mau'idloh dlm acara Haul Mbah Ibrohim Asmoroqondi, KH. Marzuki Mustamar berkisah banyak tentang Gus Dur yang tentu layak kita jadikan inspirasi :

*Kisah Pertama*

Di suatu saat Kyai Mahfud (sahabat dekat Gus Dur) menyampaikan sebuah fakta kepada KH. Marzuki Mustamar tentang alasan Gus Dur dekat dengan para pastur, seperti Romo Mangun.

Gus Dur menyampaikan bahwa "Tujuanku dekat dengan "Si Romo" adalah agar dia menghentikan misi kristenisasinya".

Diketahui bahwa Si Romo ini memang seorang misionaris, yakni biasanya mendatangi desa-desa terpencil dan membagikan sembako disertai nasehat atau ceramah tentang kekristenan. Maka, setelah Gus Dur dekat dengannya tentu sering diajak ke tempat-tempat tersebut dan tentu juga tak mungkin Si Romo melancarkan misinya karena malu kepada Gus Dur.

*Kisah Kedua*

Gus Dur pernah ditanya oleh Kyai Marzuki sendiri mengapa sering ke gereja, maka jawab beliau : "Apa tidak boleh aku ikut merawat umat yang tercecer ?", Apa kamu kira di gereja tidak ada umat islam yang bekerja di sana ?, Apa salah bila di Gereja aku menyampaikan kebenaran tentang islam, agar mereka mengetahui tentang islam yang sebenarnya, sehingga yang muslim tetap islam dan yang kristen bisa masuk islam ?".

Biasanya Gus Dur juga bertanya dan menasehati para muslim yang bekerja di gereja ; "Kamu masih islam kan ?, kuatkan ke islaman-mu !".

*Kisah Ketiga*

Pernah diketahui bahwa Gus Dur "terlihat kontras" dengan Mbah Yai Maimun Zubair, Sarang. Namun nyatanya saat Gus Dur wafat yang termasuk jadi imam sholat jenazah adalah beliau. Dan saat peringatan 1000 hari wafatnya Gus Dur, Mbah Yai Maimun Zubair memimpin kegiatan tahlilan dan punya kesempatan menyampaikan fakta yang sungguh mengharukan.

Bahwa ternyata semua adalah rekayasa Gus Dur sendiri agar beliau tidak dibicarakan kebaikannya saat masih hidup, yakni saat Mbah Yai Maimun "mau mantu", Gus Dur bermaksud menawarkan bantuan beberapa puluh juta rupiah kepada MbahYai Maimun dengan catatan ini dirahasiakan dan hanya beliau berdua yang mengetahui, bahkan Gus Dur malah merekayasa agar seakan-akan "ada permusuhan" di antara keduanya.

Maka selanjutnya terjadilah, banyak orang mencibir Gus Dur dan menyebutnya santri yang sudah tidak perhatian dan taat kepada Kyai.

*Kisah Keempat*

Di sini ada dua kisah yang dialami sendiri oleh KH. Marzuki Mustamar :

Kisah pertama : setelah peringatan 40 hari wafatnya Gus Dur, tiba-tiba ada tamu yang datang ke "ndalem" KH. Marzuki Mustamar dan memberikan sebuah piagam juga beberapa ratus sarung pemberian Gus Dur. Kyai Marzuki Mustamar bertanya : "Kok tidak diberikan saat beliau masih hidup ?", si tamu menjawab: "Karena ini adalah wasiat Gus Dur".

Kenapa piagam dan sarung ?. Diketahui bahwa KH. Marzuki Mustamar telah berhasil menguasai gereja di Malang dengan mengislamkan banyak orang di sana, sehingga gerejanya jadi kosong. Lalu KH. Marzuki Mustamar membeli gereja itu dan menjadikannya madrasah.

Rupanya Gus Dur mendengar hal tersebut dan berinisiatif memberikan "penghargaan" dan sejumlah sarung sebagai bentuk dukungan bagi para mu'allaf. Namun hal ini tidak beliau berikan semasa masih hidup karena tidak ingin kebaikannya dibicarakan banyak orang.

Kisah kedua, yaitu setelah 100 hari peringatan wafatnya Gus Dur, ada tamu lagi yang datang ke "ndalem" KH. Marzuki Mustamar dan menyerahkan tiga koper tas yang setelah dibuka berisi uang Rp 3.000.000.000 (3 miliar). Tamu tersebut menyampaikan pesan bahwa uang tersebut adalah pemberian Gus Dur dan agar dibagikan ke para yatim piatu se-Kabupaten Malang.

Lagi-lagi Gus Dur tidak mau kebaikannya dibicarakan selama masih hidup, maka beliau berwasiat demikian.

*Kisah Kelima*

Setelah terjadinya "Bom Bali", Gus Dur sangat sedih dan bingung, yakni memikirkan kondisi "keamanan" kaum muslimin di sana, maka atas kecerdasan Ilahy nya Gus Dur mengangkat ketua Hindu Bali sebagai ketua dewan Syuro PKB yang tentu ini ditentang banyak orang termasuk dari kalangan NU, namun beliau tetap pada pendiriannya.

Faktanya, respon masyarakat Hindu kepada Islam tetap baik-baik saja, terutama kepada NU. Kemudian saat KH. Marzuki Mustamar datang ke Bali untuk berceramah, beliau cukup menunjukkan KARTANU (Kartu Anggota NU) kepada aparat kepolisian yang berjaga-jaga dan beliau pun aman dalam berdakwah.

Fakta kedua, dikabarkan bahwa ketua Hindu tersebut akhirnya masuk Islam dan jadi muslim yang taat sampai saat ini.

*Kisah Keenam*

Sepeninggal Gus Dur, banyak sekali diketemukan bangunan Masjid dan tanah wakaf yang berasal dari pemberian beliau, hingga luar pulau bahkan sampai negara Belanda, maka sebab hal-hal inilah beliau dekat dengan tokoh-tokoh non-muslim hanya demi melancarkan strategi dakwahnya, termasuk meloloskan izin pendirian sebuah Masjid di Belanda yang saat ini ketua ta'mirnya adalah putra ketua Korcab Banser se-Kabupaten Malang.

-----------------------------

Inti Mauidloh Hasanah KH. Marzuki Mustamar :

LEBIH BAIK DIANGGAP BURUK NAMUN KENYATAANNYA BAIK, DARI PADA DIANGGAP BAIK TAPI KENYATAANNYA BURUK.

Ya Allah, ridloilah Gus Dur, tempatkanlah beliau di tempat terbaik di sisi-Mu, dan jadikanlah kami para pengikutnya senantiasa menetapi islam, iman dan ihsan sesuai haluan Ahlussunah wal Jama'ah, Aamiinn...

Dlm acara haul Mbah Ibrohim Asmoroqondi, Palang - Tuban.

Selasa, 24 Juli 2018

NU dan Politik

Nahdlatul Ulama (NU) memang sulit dipisahkan dari dunia politik, karena organisasi ini sudah puluhan tahun berkutat di dalamnya. Namun berpolitik menurut NU memiliki kriteria dan tujuan sendiri, bukan dilakukan dengan segala cara hanya sekadar untuk meraih kekuasaan.

Dalam Muktamar ke-28 di Yogyakarta (1989) dirumuskan 9 (sembilan) Pedoman Politik Warga NU, yaitu garis-garis pedoman untuk melangkah bagi kaum Nahdliyin yang menerjuni dunia politik dengan tetap menjunjung tinggi Khitthah Nahdlatul Ulama. Di lingkungan NU juga dikenal istilah Politik Kebangsaan, Politik Kerakyatan dan Politik Kekuasaan.

Berikut ini 9 Pedoman Politik Warga NU:

1. Berpolitik bagi Nahdlatul Ulama mengandung arti keterlibatan warga negara dalam kehidupan berbangsa dan bernegara secara menyeluruh sesuai dengan Pancasila dan UUD 1945.

2. Politik bagi Nahdlatul Ulama adalah politik yang berwawasan kebangsaan dan menuju integrasi bangsa dengan langkah-langkah yang senantiasa menjunjung tinggi persatuan dan kesatuan untuk mencapai cita-cita bersama, yaitu terwujudnya masyarakat yang adil dan makmur lahir batin, dan dilakukan sebagai aural ibadah menuju kebahagiaan di dunia dan di akhirat.

3. Politik bagi Nahdlatul Ulama adalah pengembangan nilai-nilai kemerdekaan yang hakiki dan demokratis, mendidik kedewasaan bangsa untuk menyadari hak, kewajiban dan tanggung jawab untuk mencapai kemaslahatan bersama.

4. Berpolitik bagi Nahdlatul Ulama haruslah dilakukan dengan moral, etika dan budaya yang ber-Ketuhanan Yang Maha Esa, berperikemanusiaan yang adil dan beradab, menjunjung tinggi persatuan Indonesia, berkerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, dan berkeadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

5. Berpolitik bagi Nahdlatul Ulama haruslah dilakukan dengan kejujuran nurani dan moral agama, konstitusional, adil, sesuai dengan peraturan dan norma-norma yang disepakati, serta dapat mengembangkan mekanisme musyawarah dalam memecahkan masalah bersama.

6. Berpolitik bagi Nahdlatul Ulama dilakukan untuk memperkokoh konsensus-konsensus nasional, dan dilaksanakan sesuai dengan akhlakul karimah sebagai pengamalan ajaran Ahlussunnah Waljamaah.

7. Berpolitik bagi Nahdlatul Ulama, dengan dalih apapun, tidak boleh dilakukan dengan mengorbankan kepentingan bersama dan memecah belah persatuan.

8. Perbedaan pandangan di antara aspiran-aspiran politik warga NU harus tetap berjalan dalam suasana persaudaraan, tawadhu’ dan saling menghargai satu sama lain, sehingga di dalam berpolitik itu tetap dijaga persatuan dan kesatuan di lingkungan Nahdlatul Ulama.

9. Berpolitik bagi Nahdlatul Ulama menuntut adanya komunikasi kemasyarakatan timbal balik dalam pembangunan nasional untuk menciptakan iklim yang memungkinkan perkembangan organisasi kemasyarakatan yang lebih mandiri dan mampu melaksanakan fungsinya sebagai sarana masyarakat untuk berserikat, menyalurkan aspirasi serta berpartisipasi dalam pembangunan.

#copas

Senin, 07 Mei 2018

UKIRLAH MASA DEPAN


اللهم صل وسلم عدد من احب النبى والصديق على سيدنا محمد افضل من يدعو الى الحق صلاة وسلاما ننال بهما حسن الرفيق وامان الطريق والفرج من كل شدة وضيق وعلى اله وصحبه ومن بالنبى تعلق

  Tidak ada "orang baik" yang tidak punya masa lalu,
Dan tidak ada "orang  jahat" yang tidak punya masa depan.

  Setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk berubah menjadi lebih baik.

  Bagaimanapun masa lalunya dahulu, sekelam apa lingkungannya dulu, dan seburuk apa perangainya di masa lampau.

  Berilah kesempatan seseorang untuk berubah.

  Karena, seseorang yang "hampir membunuh Rasul" pun kini berbaring di sebelah makam beliau. : Umar bin Khattab.

  Jangan melihat seseorang dari masa lalunya. Seseorang yang pernah berperang melawan agama Allah pun akhirnya menjadi pedang-nya Allah : Khalid bin Walid

  Jangan memandang seseorang dari status dan hartanya, karena sepatu emas fir'aun berada di neraka, sedangkan terompah Bilal bin rabah terdengar di syurga.

Intinya, Jangan memandang remeh seseorang karena masa lalu dan lingkungannya, karena bunga teratai tetap mekar cantik meski tinggal di air yang kotor.

  Maka untuk jadi hebat yang diperlukan adalah kuatnya tekad.

  Tak perlu pusingkan masa lalu, tak perlu malu dengan tempat asalmu, jika kau mau.

  Kau bisa menjadi laksana bunga teratai yang tinggal di air yang kotor namun tetap mekar mengagumkan.

  Berubah dan bangkit jauh lebih indah dari pada diam dan hanya bermimpi tanpa melakukan tindakan apapun.

  INGATLAH!!!

  Jika semua yang kita kehendaki terus kita miliki, dari mana kita belajar ikhlas...

  Jika semua yang kita impikan segera terwujud, darimana kita belajar Sabar...

  Jika setiap do’a kita terus dikabulkan, bagaimana kita dapat belajar Ikhtiar...

  Seorang yang dekat dengan Alloh, bukan berarti tidak ada air mata..

  Seorang yang tekun berdo’a, bukan berarti tidak ada masa² sulit..

  Biarlah Sang Penyelenggara Hidup yang berdaulat sepenuhnya atas   kita, karena hanya Dia-lah yang tahu waktu dan kondisi yang tepat untuk memberikan yang Terbaik..

  Tetap SEMANGAT…
Tetap SABAR…
Tetap IKHLAS…
Tetap SYUKUR...
Karena kamu sedang kuliah di universitas kehidupan...

  Orang yang Hebat tidak dihasilkan melalui Kemudahan, Kesenangan, dan Kenyamanan...

  Mereka dibentuk melalui KESUKARAN, TANTANGAN dan bahkan AIR MATA..

GANTUNGKAN SEPENUHNYA HIDUP KITA HANYA KEPADA ALLOH

Rabu, 02 Mei 2018

ANAK PERHIASAN YANG MAMPU MEMBAHAYAKAN

Rasulullah SAW bersabda :
إِنَّ الرَّجُلَ لَتُرْفَعُ دَرَجَتُهُ فِي الْجَنَّةِ فَيَقُولُ أَنَّى هَذَا فَيُقَالُ بِاسْتِغْفَارِ وَلَدِكَ لَكَ
“Sungguh seorang manusia akan ditinggikan derajatnya di surga (kelak), maka dia bertanya, ‘Bagaimana aku bisa mencapai semua ini? Maka dikatakan padanya: (Ini semua) disebabkan istigfar (permohonan ampun kepada Allah yang selalu diucapkan oleh) anakmu untukmu. [HR Ahmad]

_Catatan Alvers_

Anak adalah kebanggan orang tuanya dan setiap orang tua ingin memiliki anak yang bisa dibanggakan. Allah SWT berfirman :
الْمَالُ وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَالْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ خَيْرٌ عِنْدَ رَبِّكَ ثَوَاباً وَخَيْرٌ أَمَلاً
“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, tetapi amalan-amalan yang kekal dan shaleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.” (Qs.al-Kahfi: 46)
Namun kenyataannya tidak semua anak demikian. Di ayat yang lain Allah SWT berfirman :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلادِكُمْ عَدُوّاً لَكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ
“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka…” (Qs. At-Taghaabun:14)

Terlepas dari bangga atau tidaknya orang tua, maka hal yang urgent adalah melihat sisi mana yang menjadi kebanggaan orang tua. Sebab dari sinilah muncul permasalahan besar.Terdapat kisah dari ibu siti yang berkunjung ke sebuah rumah sakit, membezuk anak temannya yang sedang sakit. Teman ini seorang wanita karir lulusan S2 dari sebuah universitas ternama. Anaknya adalah seorang anak perempuan yang cantik, umurnya baru 6 tahunan. tak lupa ia membawakan sebuah boneka sebagai buah tangan. Anak tersebut dengan cepat mengenalinya sebagai teman mamanya . "bu siti ya?" " Ayoo.. bu siti.. 42: 6 berapa?” Sambil menirukan gaya mengajar bu gurunya di kelas, " bu siti ..ayo..buat kalimat.. saya pergi ke sekolah setelah itu pulangnya ke mall, bisa?" Tahukah anda? Anak tersebut berada rumah sakit Jiwa di kawasan Jakarta Timur. Apa yg sebenarnya terjadi? Ternyata menurut psikolog , anak ini terlalu di forsir. dia mengikuti les matematika dan pelajaran sekolah yang target tugasnya 1 buku harus selesai 10 menit, kemudian les bahasa inggris, terus PR sekolah, dan les-les yang lain sampai anak ini terlalu jenuh dan akhirnya mengalami gangguan jiwa akibat terlalu banyak tekanan belajar. Yang mengharukan, saat melihat sang bunda menangis, si anak cuma bilang.."bunda jangan nangis. aku kan pinter. tapi aku ga mau tidur sama bunda yaa. aku maunya sama dokter ganteng/cantik aja.."

Begitulah akibatnya jika orang tua terobsesi dengan prestasi dan kompetisi anak. Maka ketahuilah bahwa logika kompetisi dalam pendidikan adalah logika yang menyesatkan. Anak berprestasi itu tidak diukur dari jumlah juara dan piala. Alfie Kohn di tulisannya berjudul The Case Against Competition. Setelah melakukan kajian terhadap riset di bidang psikologi, sosiologi, pendidikan, biologi dan bidang lainnya, beliau menyimpulkan bahwa kompetisi pada dasarnya buruk. Kompetisi yang sehat dalam pendidikan adalah istilah yang rancu dan kontrakdiktif. Kompetisi pada harga diri anak ibarat gula pada gigi. Seperti semakin banyak gula maka semakin rusak gigi, begitu pula dengan kompetisi, semakin banyak diikuti semakin merusak harga diri anak. Sebab doktrin yang tertanam pada anak adalah “Menjadi baik tidaklah cukup, bila tidak mengalahkan semua lawan”.

Lain halnya dengan cerita berikut. Suatu hari seluruh orang tua murid diminta datang ke sekolah anaknya untuk melihat hasil belajarnya. Anaknya maju ditemani seorang pria, yang ternyata guru ngajinya. Anak itu berkata : Ayah, aku ingin membaca Surah Al Kahfi. Dengan suara indahnya sang anak mulai melantunkan ayat demi ayat. Ketika sang guru bertanya: Kenapa kamu mengaji? Sang anak menjawab : Aku ingin menjadi anak shaleh yang bisa mendoakan kedua orang tuaku masuk Surga. Semua orang tua yang hadir bergetar hatinya dan melinangkan air mata, begitu juga ayahnya, Ia lebih tersentak hatinya. sambil menangis tersedu, Ia memeluk anaknya. lalu berbicara : Saya menyekolahkan anak ini, dengan harapan ia menjadi orang yang pintar, hebat dan kaya agar kelak ia dapat membahagiakan kami dengan hartanya. Namun hari ini anak saya membuktikan, hatinya jauh lebih mulia dan jauh lebih hebat, karena mengharapkan kami, orang tuanya masuk Surga. Subhanallah.
Benarlah hadits Nabi yang berbunyi:
الولد الصالح ريحانة من رياحين الجنة
Anak yang shaleh adalah wewangian dari surga. [Faidlul Qadir]. Anak adalah harta yang paling berharga. Alangkah Indahnya apabila kita mempunyai anak seperti mereka yang tidak hanya menjadi kebanggaan di dunia tetapi juga di akhirat kelak seperti keterangan hadits di atas. Wallahu A’lam. Semoga Allah al-Bari membuka hati dan fikiran kita untuk menyadari bahwa prestasi anak bukanlah dengan sejumlah piala yang dikumpulkannya tapi bagaimana mereka taat kepada Rabbnya dan menjadi anak yang shalih yang selalu mendoakan orangtuanya.

Salam Satu Hadits,
Dr.H.Fathul Bari,SS.,M.Ag

Kamis, 30 November 2017

KEUTAMAAN MAULID NABI BUHAMMAD SAW

Keutamaan Maulid Nabi

KEUTAMAAN MAULID NABI MUHAMMAD SAW
Di dalam kitab “An-Ni’matul Kubra ‘alal ‘Alami fi Maulidi Sayyidi Waladi Adam” halaman 5-7, karya Imam Ibnu Hajar al-Haitami (909-974 H. / 1503-1566 M.), cetakan “Maktabah al-Haqiqat” Istambul Turki, diterangkan tentang keutamaan-keutamaan memperingati maulid Nabi Muhammad SAW.

1. Sayyidina Abu Bakar RA. berkata:

من أنفق درهما على قراءة مولد النبي صلى الله عليه وسلم كان رفيقي في الجنة

Barangsiapa membelanjakan satu  dirham untuk mengadakan pembacaan Maulid Nabi SAW, maka ia akan menjadi temanku di surga

2. Berkata Sayyidina Umar RA.

من عظم مولد النبي صلى الله عليه وسلم فقد أحيا الإسلام

“Barangsiapa mengagungkan Maulid Nabi SAW, maka sesungguhnya ia telah menghidupkan Islam.”

3. Berkata Sayyidina Utsman RA.:

من أنفق درهما على قراءة مولد النبي صلى الله عليه وسلم فكأنما شهد غزوة بدر وحنين

“Barangsiapa membelanjakan satu dirham untuk mengadakan pembacaan Maulid Nabi SAW, maka seakan-akan ia ikut-serta menyaksikan perang Badar dan Hunain.”

4. Sayyidina Ali RA. berkata:

من عظم مولد النبي صلى الله عليه وسلم وكان سببا لقراءته لا يخرج من الدنيا إلا بالإيمان ويدخل الجنة بغير حساب

“Barangsiapa mengagungkan Maulid Nabi SAW, dan ia menjadi sebab dilaksanakannya pembacaan maulid Nabi, maka tidaklah ia keluar dari dunia melainkan dengan keimanan dan akan dimasukkan ke dalam surga tanpa hisab.”

5. Imam Hasan Bashri RA. berkata:

وددت لو كان لي مثل جبل أحد ذهبا فأنفقته على قراءة مولد النبي صلى الله عليه وسلم

“Aku senang sekali seandainya aku memiliki emas sebesar gunung Uhud, maka aku akan membelanjakannya untuk kepentingan memperingati maulid Nabi SAW.”

6. Imam Junaed al-Baghdadi, semoga Allah membersihkan sir (rahasia)-nya, berkata:

من حضر مولد النبي صلى الله عليه وسلم وعظم قدره فقد فاز بالإيمان

“Barangsiapa menghadiri peringatan Maulid Nabi SAW dan mengagungkan derajat beliau, maka sesungguhnya ia akan memperoleh kebahagian dengan penuh keimanan.”

7. Imam Ma’ruf al-Karkhi, semoga Allah membersihkan sir (rahasia)-nya:

من هيأ طعاما لأجل قراءة مولد النبي صلى الله عليه و سلم و جمع اخوانا و أوقد سراجا و لبس جديدا و تبخر و تعطر تعظيما لمولد النبي صلى الله عليه و سلم حشره الله يوم القيامة مع الفرقة الأولى من النبيين و كان فى أعلى عليين

“Barangsiapa menyediakan makanan untuk pembacaan Maulid Nabi SAW, mengumpulkan saudara-saudaranya, menyalakan lampu, memakai pakaian yang baru, memasang harum-haruman dan memakai wangi-wangian karena mengagungkan kelahiran Nabi SAW, niscaya Allah akan mengumpulkannya pada hari kiamat bersama golongan orang-orang yang pertama di kalangan para nabi dan dia akan ditempatkan di syurga yang paling atas (‘Illiyyin).”

8. Imam Fakhruddin ar-Razi berkata:

: ما من شخص قرأ مولد النبي صلى الله عليه وسلم على ملح أو بر أو شيئ أخر من المأكولات الا ظهرت فيه البركة و فى كل شيئ وصل اليه من ذلك المأكول فانه يضطرب و لا يستقر حتى يغفر الله لأكله وان قرئ مولد النبي صلى الله عليه وسلم على ماء فمن شرب من ذلك الماء دخل قلبه ألف نور و رحمة و خرج منه ألف غل و علة و لا يموت ذلك القلب يوم تموت القلوب . و من قرأ مولد النبي صلى الله عليه وسلم على دراهم مسكوكة فضة كانت أو ذهبا و خلط تلك الدراهم بغيرها و قعت فيها البركة و لا يفتقر صاحبها و لا تفرغ يده ببركة النبي صلى الله عليه و سلم

“Tidaklah seseorang yang membaca maulid Nabi saw. ke atas garam atau gandum atau makanan yang lain, melainkan akan tampak keberkatan padanya, dan setiap sesuatu yang sampai kepadanya (dimasuki) dari makanan tersebut, maka akan bergoncang dan tidak akan tetap sehingga Allah akan mengampuni orang yang memakannya.

Dan sekirannya dibacakan maulid Nabi saw. ke atas air, maka orang yang meminum seteguk dari air tersebut akan masuk ke dalam hatinya seribu cahaya dan rahmat, akan keluar daripadanya seribu sifat dengki dan penyakit dan tidak akan mati hati tersebut pada hari dimatikannya hati-hati itu.

Dan barangsiapa yang membaca maulid Nabi saw. pada suatu dirham yang ditempa dengan perak atau emas dan dicampurkan dirham tersebut dengan yang lainnya, maka akan jatuh ke atas dirham tersebut keberkahan dan pemiliknya tidak akan fakir serta tidak akan kosong tangannya dengan keberkahan Nabi saw.”

9. Imam Syafi’i, semoga Allah merahmatinya, berkata:

من جمع لمولد النبي صلى الله عليه وسلم إخوانا وهيأ طعاما وأخلى مكانا وعمل إحسانا وصار سببا لقراءته بعثه الله يوم القيامة مع الصادقين والشهداء والصالحين ويكون في جنات النعيم

“Barangsiapa mengumpulkan saudara-saudaranya untuk mengadakan Maulid Nabi, kemudian menyediakan makanan dan tempat serta melakukan kebaikan untuk mereka, dan dia menjadi sebab atas dibacakannya Maulid Nabi SAW, maka Allah akan membangkitkan dia bersama-sama golongan shiddiqin (orang-orang yang benar), syuhada (orang-orang yang mati syahid), dan shalihin (orang-orang yang shaleh) dan dia akan dimasukkan ke dalam surga-surga Na’im.”

10. Imam Sirri Saqathi, semoga Allah membersihkan sir (bathin)-nya:

من قصد موضعا يقرأ فيه مولد النبي صلى الله عليه وسلم فقد قصد روضة من رياض الجنة لأنه ما قصد ذلك الموضع الا لمحبة النبي صلى الله عليه و سلم . وقد قال صلى الله عليه و سلم : من أحبني كان معي فى الجنة

“Barangsiapa pergi ke suatu tempat yang dibacakan di dalamnya maulid Nabi saw, maka sesungguhnya ia telah pergi ke sebuah taman dari taman-taman syurga, karena tidaklah ia menuju ke tempat-tempat tersebut melainkan karena cintanya kepada Nabi saw. Sesungguhnya Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa mencintaiku, maka ia akan bersamaku di dalam syurga.”

11. Imam Jalaluddin as-Suyuthi berkata:

مامن بيت أو مسجد أو محلة قرئ فيه مولد النبي صلى الله عليه وسلم إلا حفت الملائكة ذلك البيت أو المسجد أو المحلة وصلت الملائكة على أهل ذلك المكان وعمهم الله تعالى بالرحمة والرضوان.
وأما المطوفون بالنور يعنى جبريل و ميكائيل و اسرافيل و عزرائيل عليهم الصلاة و السلام فانهم يصلون على من كان سببا لقراءة النبي صلى الله عليه و سلم. و قال أيضا: ما من مسلم قرأ فى بيته مولد النبي صلى الله عليه و سلم الا رفع الله سبحانه و تعالى القحط والوباء والحرق والغرق والأفات والبليات والبغض والحسد وعين السوء واللصوص من أهل ذلك البيت فاذا مات هون الله عليه جواب منكر ونكير ويكون فى مقعد صدق عند مليك مقتدر. فمن أراد تعظيم مولد النبي صلى الله عليه وسلم يكفيه هذا القدر. ومن لم يكن عنده تعظيم مولد النبي صلى الله عليه وسلم لو ملأت له الدنيا فى مدحه لم يحرك قلبه فى المحبة له صلى الله عليه وسلم.

“Tidak ada rumah atau masjid atau tempat yg di dalamnya dibacakan maulid Nabi SAW melainkan malaikat akan mengelilingi rumah atau masjid atau tempat itu, mereka akan memintakan ampunan untuk penghuni tempat itu, dan Allah akan melimpahkan rahmat dan keridhaan-Nya kepada mereka.”

Adapun para malaikat yang dikelilingi dengan cahaya adalah malaikat Jibril, Mika’il, Israfil, dan Izra’il as. Karena, sesungguhnya mereka memintakan ampunan kepada Allah swt untuk mereka yang menjadi sebab dibacakannya pembacaan maulid Nabi saw. Dan, dia berkata pula: Tidak ada seorang muslimpun yang dibacakan di dalam rumahnya pembacaan maulid Nabi saw melainkan Allah swt menghilangkan kelaparan, wabah penyakit, kebakaran, tenggelam, bencana, malapetaka, kebencian, hasud, keburukan makhluk, dan pencuri dari penghuni rumah itu. Dan, apabila ia meninggal, maka Allah akan memudahkan jawabannya dari pertanyaan malaikat Munkar dan Nakir dan dia akan berada di tempat duduknya yang benar di sisi penguasa yang berkuasa. Dan, barangsiapa ingin mengagungkan maulid Nabi saw, maka Allah akan mencukupkan derajat ini kepadanya. Dan, barangsiapa di sisinya tidak ada pengagungan terhadap maulid Nabi saw, seandainya penuh baginya dunia di dalam memuji kepadanya, maka Allah tidak akan menggerakkan hatinya di dalam kecintaannya terhadap Nabi saw.

ZIARAH KUBUR

Karya al Imam al Hafizh Abu Bakr Ahmad bin Ali; yang lebih dikenal dengan al Khathib al Baghdadi  (w 463 H)
 
--- dengan sanadnya ----  berkata: Aku mendengar Imam asy Syafi’i berkata: Sesungguhnya saya benar-benar melakukan tabarruk (mencari berkah) kepada Imam Abu Hanifah, aku mendatangi makamnya setiap hari untuk ziarah, jika ada suatu masalah yang menimpaku maka aku shalat dua raka’at dan aku mendatangi makam Imam Abu Hanifah, aku meminta kepada Allah agar terselesaikan urusanku di samping makam beliau, hingga tidak jauh setelah itu maka keinginanku telah dikabulkan”.

Adapun Dalil-dalil tentang ziarah kubur
قَالَ رَسُوْلُ الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلّمَ : نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ اْلقُبُوْرِ فَزُوْرُوْهَا
Artinya :    Rasulallah s.a.w bersabda: Dahulu aku telah melarang kalian berziarah ke kubur. Namun sekarang, berziarahlah kalian ke sana. (H.R. Muslim)

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمْ : اِسْتَأْذَنْتُ رَبِّيْ أَنْ أَسْتَغْفِر لأُمِّيْ ، فَلَمْ يَأذَنْ لِيْ ، وَاسْتأذَنْتُهُ أنْ أَزُوْرَ قَبْرَهَا فَأذِنَ لِيْ
Artinya:    Dari Abu Hurairah r.a. Berkata, Rasulallah s.a.w. bersabda: Aku meminta ijin kepada Allah untuk memintakan ampunan bagi ibuku, tetapi Allah tidak mengijinkan. Kemudian aku meminta ijin kepada Allah untuk berziarah ke makam ibuku, lalu Allah mengijinkanku. (H.R. Muslim)

وَفِى رِوَايَةٍ أُخْرَى : زَارَ النَّبِيُّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  قَبْرَ اُمِّهِ, فَبَكَي وَاَبْكَى مَنْ حَوْلَهُ (اَخْرَجَهُ مُسْلِمْ وَاْلحَكِيْم
Artinya :    Dalam riwayat yang lain dari Abu Hurairah bahwa : Nabi s.a.w. ziarah ke makam ibunya kemudian menangis lalu menangislah orang-orang sekitarnya. (H.R. Muslim [hadits ke 2256], dan al-Hakim [hadits ke 1390]).

Jadi dengan demikian, menangis di dekat kubur tidaklah berimplikasi pada kekafiran, begitu juga tidak mendatangkan siksa bagi mayit yang ditangisi.
Adapun Pendapat para ulama’ tentang ziarah kubur diantaranya:
1.    Imam Ahmad bin Hanbal
Ibnu Qudamah dalam kitabnya “al-Mughni” menceritakan bahwa Imam Ahmad bin Hanbal pernah ditanya pendapatnya tentang masalah ziarah kubur, manakah yang lebih utama antara ziarah kubur ataukah meninggalkannya. Beliau Imam Ahmad kemudian menjawab, bahwa ziarah kubur itu lebih utama.
2.    Imam Nawawi
Imam Nawawi secara konsisten berpendapat dengan hukum sunahnya ziarah kubur. Imam Nawawi juga menjelaskan tentang adanya ijma’ dari kalangan ashabus Syafi’i (para pengikut Imam Syafi’i) tentang sunahnya ziarah kubur.
3.    Doktor Said Ramadlan al-Buthi
Doktor Said Ramadhan al-Buthi juga berbendapat dengan pendapat yang memperbolehkan ziarah kubur. Al-Buthi berkata, “Belakangan ini banyak dari kalangan umat Islam yang mengingkari sampainya pahala kepada mayit, dan menyepelekan permasalahan ziarah ke kubur.”

(Disarikan dari  buku Amaliah NU dan Dalil-Dalilnya, Penerbit LTM (Lembaga Ta”mir Masjid)PBNU.

DAHSYATNYA SURAT AL-IKHLAS

DAHSYATNYA SURAT AL- IKHLAS
Assalamu`allaikun
Wr Wb

{ Sempatkanlah sebentar untuk membaca tulisan ini }

Rasulullah Muhammad SAW pada suatu ketika bersabda :
”Demi Allah yang jiwaku di GenggamanNYA, sesungguhnya :

*QUL HUWALLAHU AHAD* itu tertulis di sayap Malaikat Jibril.

*ALLAHHUS SOMAD*  itu tertulis disayap Malaikat Mikail.

*LAMYALID WALAM YUULAD* tertulis
pada, sayap Malaikat Izra'il ,

*WALAM YAKULLAHU KUFUWAN AHAD*  tertulis pada sayap Malaikat Israfil "

Berkata Ibnu Abbas r.a. bahwa Rasulullah SAW telah bersabda: *Ketika saya {Rasulullah SAW} Isra’ ke langit, saya melihat Arasy di atas 360,000 pilar dan jarak jauh antara satu pilar ke satu pilar yang lain ialah 300,000 tahun perjalanan* . .

*Pada tiap-tiap pilar  itu terdapat padang pasir yang jumlahnya 12,000 dan luasnya setiap satu padang itu seluas dari Timur  hingga ke Barat* .

*Pada setiap padang itu terdapat 80,000 Malaikat yang mana kesemuanya membaca surat Al-Ikhlas* .

Setelah mereka selesai membaca Surah tersebut maka berkata mereka :

”Wahai Tuhan kami, sesungguhnya pahala dari bacaan ini kami berikan kepada orang yang membaca surah
Al-Ikhlas baik lelaki maupun perempuan.”.

Riwayat Anas bin Malik juga merekam kisah berkaitan surat Al-Ikhlas.

*Suatu ketika 70.000 Malaikat diutus datang kepada seorang sahabat di Madinah yang meninggal @ Kedatangan para Malaikat itu hingga meredupkan cahaya matahari. *70.000 Malaikat itu diutus hanya  karena almarhum sering membaca surat ini* .

Anas bin Malik yang saat itu bersama Nabi Muhammad SAW di Tabuk merasakan cahaya matahari redup tidak seperti biasanya dan Malaikat Jibril datang kepada  Nabi untuk memberitakan kejadian yang sedang terjadi di Madinah.

Rasulullah S.A.W bersabda :
Barangsiapa membaca surah Al-Ikhlas sewaktu sakit sehingga dia meninggal dunia, maka tubuhnya tidak akan membusuk didalam kuburnya, akan selamat dia dari kesempitan kuburnya dan para Malaikat akan  membawanya dengan sayap mereka melintasi Titian Siratul Mustaqim lalu menuju ke Surga. (HR Qurthuby).

*SUBHANALLAH* ..........
Jika Anda men- Share ini kepada 1 orang artinya Anda sudah menyebarkan 10 kebaikan di Akhirat.

Ya Allah, jadikanlah kami se keluarga sll membaca Surotul Al Ikhlas , mengucapkan " *SUBHANALLAH*
dan wafat dalam keadaan *HUSNUL KHATIMAH*
*Aamiin allahumma aamiin

ULAMA'DALAM JEBAKAN

ULAMA "DALAM JEBAKAN".
Oleh: Prof. Fahmi Amhar
......
Kini ulama adalah mahluk langka. Jarang anak kecil yang bercita-cita mau menjadi ulama. Orangtua pun kalau mengirim anaknya ke pesantren hanya agar anaknya menjadi salih, bukan menjadi ulama.

Di sisi lain, kalau kita memperkenalkan tokoh Indonesia ke orang Timur Tengah bahwa dia seorang ulama, orang Timur Tengah akan balik bertanya: Ulama di bidang apa? Apakah dalam ulumul Quran? Hadis? Fikih? Tarikh? Kalau kita tidak menjelaskan, mereka akan ragu, “Ulama apa itu? Ahli al-Quran bukan; ahli hadis bukan; ahli fikih bukan; ahli tarikh bukan. Jadi, ahli apa?”

Walhasil, kita tahu bahwa ulama saat ini sangat langka. Dari yang langka ini, lebih banyak ulama yang lemah daripada yang kuat. Yang lemah ini tidak menjadi inspirasi bagi umat, tidak memimpin umat keluar dari keterpurukannya, bahkan mereka tidak jarang justru menjadi bagian dari sistem yang menindas umat.

Apa sesungguhnya faktor-faktor yang membuat ulama yang langka ini semakin lemah? Secara umum ada tiga ”jebakan” bagi ulama. Pertama: jebakan pemikiran yang terjadi pada dirinya sendiri. Kedua: jebakan kultural yang “disiapkan” masyarakat. Ketiga: jebakan sistem yang direkayasa oleh para penguasa.
Agar dapat keluar dari jebakan ini, para ulama wajib memiliki kesadaran ideologis, di mana posisinya saat ini, agar dia tidak terjebak di salah satu atau ketiganya.

1. Jebakan Pemikiran.
Jebakan pemikiran adalah jebakan yang paling lembut sehingga yang terjebak tidak merasa dirinya terjebak. Jebakan pemikiran ini ada tiga macam. Pertama: sekularisasi. Sekularisasi adalah pemisahan agama dari kehidupan publik, yakni kehidupan tempat interaksi tak terbatas seluruh warga, baik Muslim maupun bukan, dalam segala aspek kehidupan: politik, ekonomi, sosial, budaya, pendidikan, pertahanan dll.

Pahit untuk mengakui, bahwa sebagian besar ulama kita sudah tersekularisasi di segala sisi. Mereka canggung berbicara masalah publik dari sisi Islam. Mereka membatasi diri untuk berbicara hanya saat ada persoalan moral seperti pornografi, miras, perjudian, pelacuran. Kalaupun mereka berbicara tentang terorisme, itu karena terorisme dikaitkan dengan ustad dan pesantren. Mereka juga hanya peka terhadap gerakan sesat (Ahmadiyah, shalat dwibahasa, dsb). Sebaliknya, mereka canggung untuk duduk bersama membahas pengaturan sumberdaya alam menurut Islam atau mengatasi krisis pangan menurut Islam; seakan-akan dalam masalah-masalah ini, Islam tidak mempunyai solusi.

Kalau berbicara tentang pendidikan Islam, yang terlintas hanya mata pelajaran agama di sekolah, atau pendidikan oleh yayasan Islam (termasuk pesantren). Jarang yang berpikir bahwa pendidikan Islam itu menyangkut segala segi, dari muatan kurikulumnya yang harus mengacu pada akidah Islam di segala pelajaran (termasuk bahasa, matematika, IPA, IPS) hingga bagaimana pendidikan itu bisa dibiayai sehingga semua warga bisa mendapatkan akses pendidikan bermutu yang terjangkau.
Kedua: dakwah ishlâhiyah dan khayriyah. Sejak sekularisasi menjadi arus utama, Islam dipelajari hanya sebatas ajaran perbaikan individu atau keluarga. Dakwah akhirnya hanya terfokus pada perubahan individual yang bersifat kebajikan (khayriyah). Topik yang dominan adalah fikih praktis (ibadah, tatacara makan/berpakaian, nikah, muamalah sehari-hari dan akhlak). Dakwah sudah dianggap sukses jika berhasil menjadikan seseorang rajin shalat atau perempuan mau berbusana Muslimah. Terkait dengan aktivitas masyarakat, dakwah ditekankan pada kepedulian sosial seperti sedekah, menyantuni anak yatim hingga mendirikan sekolah dan rumah sakit. Bagaimana memberikan solusi tuntas dan mendasar terhadap segala masalah umat (ekonomi, pendidikan, sosial, hukum, perundang-undangan, dll), hal itu jarang dijadikan target.

Ketiga: pemikiran “asketis”. Derap kehidupan hedonis, apalagi yang dibawa Kapitalisme, membuat sebagian ulama bereaksi dengan hidup bak pertapa sufi (asketis). Dakwah mereka fokus pada aspek ruhiah (spiritual) dan mengajak masyarakat menjauhi dunia. Walhasil, pada saat mendengar nasihat mereka, orang bisa mengucurkan air mata. Namun, begitu keluar majelis, aktivitas dunianya tidak mengacu syariah, karena syariah itu sendiri tidak pernah dibahas. Orang diasumsikan otomatis jadi baik ketika pikirannya mengingat Allah. Padahal faktanya, amal seseorang bergantung pada pemahaman syar‘i yang dimilikinya. Ada pemilik bank yang tiap hari bergelimang riba, namun dia tidak merasa berdosa, karena sudah rajin tahajud dan puasa sunnah.

2. Jebakan Kultural.
Jebakan kultural atau budaya terjadi di—dan dilakukan oleh—masyarakat. Masyarakat menggunakan pengalamannya dalam berinteraksi dengan agama lain saat memahami Islam. Jebakan kultural ini dapat memaksa seorang ulama yang semula kuat karena ikhlas menjadi lemah karena bias. Ada tiga jebakan kultural:

Pertama: mitos ulama. Pada semua ajaran lain, keyakinan berasal dari mitos atau aksioma yang tidak rasional. Ketika beralih ke Islam, penganut mitos pun memandang akidah Islam sebagai mitos. Rasul saw. berubah dari sosok manusia teladan menjadi sosok keramat yang supranatural. Bahkan ulama tiba-tiba dianggap “orang suci” yang mustahil salah, seperti penganut Katolik memandang Paus. Belakangan muncul orang-orang yang memanfaatkan hal ini demi keuntungan pribadi. Mereka melegitimasi diri di depan orang-orang awam dengan ayat al-Quran atau hadis yang diselewengkan. Lalu muncullah bid‘ah di mana-mana.

Di sisi lain, ulama dimitoskan dengan segala idealitas dalam pandangan awam, bukan pandangan syariah. Saat ulama itu melakukan hal yang dibenci awam (misalnya poligami), gelar “orang suci” tiba-tiba lenyap. Mereka tidak bisa menerima kenyataan, bahwa “ulama juga manusia”.

Kedua: mitos bahasa. Sebagai bahasa al-Quran, bahasa Arab adalah bahasa ilmu pengetahuan Islam. Namun, di masyarakat non-Arab, kini bahasa ini sudah menjadi “hak istimewa” selapis kecil ulama. Sekadar tulisan Arab saja kadang dianggap keramat dan mampu mengusir setan. Orang yang pintar membaca al-Quran langsung dipanggil ustadz. Yang fasih berbahasa Arab (baca kitab kuning) dijuluki ulama, tanpa melihat lagi pemahaman Islamnya.

Ketiga: mitos ijtihad. Pada zaman sekarang, ijtihad dimitoskan sama dengan berpendapat. Setiap orang akhirnya boleh berijtihad, sekalipun tanpa bekal memadai. Tidak aneh, muncullah fatwa-fatwa nyleneh. Namun, ini ditoleransi dengan dalil, bahwa ijtihad itu, kalau benar mendapat dua pahala, dan kalau salah mendapat satu pahala. Padahal yang terjadi kadang-kadang hanyalah adopsi terhadap paham sekular yang dilabeli Islam, yang jauh sekali dari kategori ijtihad.

3. Jebakan Sistem.
Para penguasa korup pada zaman manapun melihat para ulama sebagai orang-orang yang berpotensi menghalangi mereka. Karena itu, penguasa fâsid ini akan berupaya melemahkan para ulama, baik secara “legal” maupun “ilegal”. Yang legal ada tiga macam:

Pertama: depolitisasi. Ulama dimarjinalkan dari kancah politik dengan sekularisme. Ulama yang menolak sekularisme akan mundur dari arena; yang ada dalam sistem, mau tak mau, akan sama sekularnya. Contoh, pada masa lalu, ada UU yang mewajibkan asas tunggal bagi ormas dan parpol. Akibatnya, para ulama praktis kehilangan ‘rumah’, kecuali yang mau pindah ke ormas atau parpol pendukung penguasa. Meski berdalih akan “mengislamkan dari dalam”, yang terjadi justru sebaliknya.

Kedua: pragmatisme. Ulama dipojokkan untuk sekadar bertahan hidup dalam sistem. Sistem sekular menjamin pelaksanaan syariah di ranah pribadi. Pembangunan masjid dibantu. Dakwah khayriyah dipromosikan. Zakat dan haji dilayani pemerintah. Ulama yang terpojok akhirnya mengambil sikap, “Inilah yang masih bisa kita kerjakan.” Mereka akhirnya diam terhadap urusan publik yang masih diatur sistem kufur. Padahal kezaliman pada urusan ini (misalnya mahalnya BBM) melanda semua orang; Muslim atau bukan; apakah mereka tahu masalahnya atau tidak. Dakwah pun kemudian tak lagi untuk meluruskan penguasa yang bengkok, yang oleh Nabi saw. disebut sebagai afdhal al-jihâd (jihad paling utama), namun ”yang penting aman”.

Ketiga: Godaan 3-TA. Yang paling vulgar adalah pelemahan ulama dengan harta, tahta dan wanita. Ulama yang kesulitan finansial dibantu, pondoknya dibangun, santrinya diberi beasiswa, dan dakwahnya makin bernilai bisnis. Ada juga ulama yang dilamar jabatan, dari legislatif lokal hingga calon wapres. Yang terheboh tentu saja yang ditawari wanita. Namun, semua ada kompensasinya. Yang jelas kepekaan, sikap dan pengaruh politik yang bersangkutan bisa tergadai, atau setidaknya dia akan sibuk dengan 3-TA itu. Akibatnya, kinerja keulamaannya turun, atau bahkan dilupakan. Telah banyak pesantren yang hancur karena ditinggal pemimpinnya yang menjadi “selebritis” atau politisi di Senayan.

Adapun jebakan yang ilegal amat bergantung pada sikap penguasa. Kalau dia santun, ini tidak dilakukan. Dia mencukupkan diri dengan yang legal. Namun, penguasa zalim akan menempuh segala cara.

Pertama: pecah-belah. Adu domba ini tidak jarang dengan penyusupan intelijen. Fitnah dimunculkan: yang satu mencurigai yang lain; menuduh pihak lain sesat, ahli bid‘ah, dll. Akibatnya, ukhuwah islamiyah terputus.

Kedua: stigma negatif. Penguasa memberikan citra negatif seperti radikal, ekstremis dan teroris kepada ulama sehingga yang bersangkutan dijauhi masyarakat. Stigma ini umumnya ditujukan kepada ulama-ulama yang sederhana. Kadang-kadang jamaahnya dipancing untuk melakukan kekerasan, kemudian dimanfaatkan untuk mempertegas stigma yang diberikan.

Ketiga: siksaan dan penjara. Ini adalah cara terakhir untuk membungkam ulama. Namun, tren di negeri-negeri Muslim sekarang, ulama yang pernah disiksa atau dipenjara justru makin karismatik. Ini tidak disukai penguasa. Karena itu, direkayasalah seakan-akan sang ulama melakukan kriminalitas seperti menyimpan narkoba, melakukan kejahatan seksual atau pemalsuan dokumen; sebagaimana yang pernah divoniskan kepada Ustad Abu Bakar Baasyir.

Khatimah
Menyatakan seseorang atau sekelompok ulama telah terkena jebakan-jebakan di atas bisa menyulut emosi orang-orang yang merasa selama ini ikhlas berjuang dan berkonstribusi bagi umat. Mereka merasakan pahit-getirnya perjalanan dakwah. Sebagian bahkan telah menghabiskan usianya di penjara.
Semua itu tidak kita nafikan. Dengan menunjukkan jebakan-jebakan itu, kita tidak sedang menghakimi para ulama pada masa lalu, namun agar pada masa depan tidak ada dari kita yang kena sindiran Rasulullah saw.: Seorang Muslim tidak akan terperosok ke dalam lubang yang sama dua kali.

_Wallâhu a‘lam bi ash-shawâb_
Fitnah Istri, Anak-Anak dan Harta Benda (Tadabbur Surah At-Taghaabun Ayat 14-18)

Sep9 by sepdhani

Oleh: Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili

Al-Qur’an memperingatkan adanya fitnah istri, anak-anak dan harta benda yang bisa menjadi sebab kelalaian dalam mewujudkan ketaatan, dan terkadang menjerumuskan ke dalam kemaksiatan. Sangat sesuai dengan konteks ini bila Allah memerintahkan ketakwaan dan infak di jalan Allah, sebab tindakan tersebut menjadi modal manusia dan jalan untuk membahagiakan dirinya di dunia dan akhirat, Setiap penyakit memiliki obatnya, sedangkan obat bagi penyimpangan adalah bersegera mewujudkan sikap istiqamah dan menetapi jalan lurus amal dan ketaatan. Sebagaimana dijelaskan oleh ayat-ayat berikut,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلادِكُمْ عَدُوًّا لَكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ وَإِنْ تَعْفُوا وَتَصْفَحُوا وَتَغْفِرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ (١٤) إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلادُكُمْ فِتْنَةٌ وَاللَّهُ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ (١٥) فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَاسْمَعُوا وَأَطِيعُوا وَأَنْفِقُوا خَيْرًا لأنْفُسِكُمْ وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ (١٦) إِنْ تُقْرِضُوا اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا يُضَاعِفْهُ لَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ وَاللَّهُ شَكُورٌ حَلِيمٌ (١٧) عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka; dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka), maka sungguh, Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar. Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah dan nafkahkanlah nafkah yang baik untuk dirimu, dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung. Jika kamu meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya Allah melipatgandakan balasannya kepadamu dan mengampuni kamu, dan Allah Maha Pembalas Jasa lagi Maha Penyantun. Yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. At-Taghaabun: 14-18).


Penjelasan (Tafsir)

Tirmidzi, Hakim dan Ibnu Jarir meriwayatkan dari Ibnu Abbas, ia berkata, “Ayat ini, “Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya di antara istri-istrimu.” Turun terkait segolongan penduduk Mekah yang masuk Islam, namun istri dan anak-anak mereka tidak bersedia mereka tinggalkan (untuk berhijrah). Akhirnya mereka sampai ke Madinah. Tatkala mereka menghadap Rasulullah saw., mereka melihat orang-orang (kaum muslimin) telah dipahamkan (dalam urusan agama). Maka mereka bertekad untuk menghukum istri dan anak-anak mereka. Lalu Allah menurunkan ayat, “ dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka)” hingga akhir ayat.

Artinya, sebab turunnya ayat ini adalah bahwasanya segolongan orang beriman kepada Allah, tetapi istri dan anak-anak mereka menahan langkah mereka untuk berhijrah, merekapun tidak berhijrah kecuali setelah sekian waktu berselang. Di Madinah mereka mendapati kaum muslimin selain mereka telah mendalam pemahamannya tentang agama, maka mereka menyesal dan merasa rugi, mereka hendak menghukum istri dan anak-anak.

Wahai orang-orang yang membenarkan Allah dan Rasul-Nya, sesungguhnya sebagian istri dan anak-anak kalian adalah musuh bagi kaliän, permusuhan dalam urusan akhirat, terkait sesuatu yang tidak bermanfaat bagi kalian. Mereka menyibukkan kalian dari kebaikan dan amal saleh yang berguna bagi kalian di akhirat. Maka waspadalah agar cinta dan kasih sayang kalian kepada mereka tidak mempengaruhi ketaatan kalian kepada Allah SWT. Kemudian Allah menganjurkan untuk memberi maaf kepada mereka.

Apabila kalian memaafkan dosa-dosa istri dan anak-anak kalian, kalian menyantuni mereka dengan tidak mencela mereka, kalian juga menutupi kesalahan mereka sebagai pengantar agar mereka meminta maaf atas kesalahan mereka, maka Allah Mahaluas ampunan-Nya terhadap dosa hamba-hamba-Nya, Maha menyeluruh rahmat-Nya bagi mereka, Dia memperlakukan manusia dengan perlakuan yang lebih baik dari apa yang mereka kerjakan.

Kemudian Allah memberitahukan bahwa harta benda dan anak-anak adalah fitnah, yakni media ujian dan cobaan, yang menyibukkan seseorang dari medan petunjuknya, yang mendorongnya untuk lebih mendahulukan dunia daripada akhirat dan terjatuh ke dalam perkara yang tidak terpuji baginya. Dalam hal ini Rasulullah saw. bersabda-seperti yang diriwayatkan oleh Abu Ya’la di dalam kitab musnadnya-,

اَلْوَلَدُ مَبْخْلَةٌ وَمَجْبَنَةٌ

“Anak adalah sesuatu yang menjadikan (orang tuanya) bakhil dan pengecut.”

Dan di sisi Allah terdapat pahala agung bagi orang yang lebih mendahulukan ketaatan kepada Allah dan dia tidak tenggelam di dalam kemaksiatan disebabkan kecintaan terhadap anak dan harta. Ini adalah anjuran untuk bersikap zuhud di dunia dan lebih mementingkan akhirat. Ahmad, Tirmidzi, Hakim, dan Thabrani meriwayatkan dari Ka’b bin Iyadh, ia berkata, “Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda,

إِنَّ لِكُلِّ أُمَّةٍ فِتْنَةٌ، وَإِنَّ فِتْنَةَ أُمَّتِيْ الْمَالُ

“Sesungguhnya masing-masing umat memiliki fitnah, dan sesungguhnya fitnah umatku adalah harta.”

Cara menghindarkan diri dari fitnah

Yaitu dengan ketakwaan dan ketaatan. Maka Allah SWT memerintahkan ketakwaan; yaitu komitmen untuk menunaikan perintah dan menjauhi larangan sesuai kadar kemampuan dan usaha. Allah juga menyuruh untuk mendengarkan perintah dan menaatinya, serta menginfakkan sebagian harta yang dikarunakan Allah kepada hamba pada jalur-jalur kebaikan. Firman Allah, “yang baik untuk dirimu,” manshub karena menjadi obyek firman Allah, “Dan infakkanlah.” Al-khair(kebaikan) di sini maksudnya adalah harta. Atau, ia adalah na’tun (sifat) untuk mashdaryang terhapus. Penjelasannya: infakkanlah dengan infak yang baik. Dan di dalam infak terdapat kebaikan bagi jiwa di dunia dan di akhirat.

Barangsiapa dilindungi dan dijaga oleh Allah dari penyakit kikir (sifat bakhil disertai ketamakan), sehingga ia berinfak di jalan Allah dan jalur-jalur kebaikan, maka merekalah orang-orang yang beruntung dengan mendapatkan segala apa yang mereka inginkan (di surga). Bukhari di dalam kitab Tarikh-nya dan Abu Daud meriwayatkan dari Abu Hurairah r. a. bahwasanya Nabi saw. bersabda,

شَرُّ مَا فِي رَجُلٍ: شُحٌّ هَالِعٌ، وَجُبْنٌ خَالِعٌ

“Seburuk-buruk apa yang ada pada diri seseorang: sifat kikir yang menggelisahkan dan sifat pengecut yang menelanjangi.”

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Sa’id bin Jubair, ia berkata, “Ketika ayat berikut turun, “Bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya.” (QS. Ali ‘Imraan: 102) terasa berat bagi orang-orang untuk mengamalkannya, mereka berdiri (untuk menunaikan shalat) hingga tumit mereka menjadi pegal dan kening mereka terluka. Lalu Allah menurunkan ayat sebagai keringanan bagi kaum muslimin, “Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu.”

Di dalam Ash-Shahihaini disebutkan sebuah hadits dari Abu Hurairah r. a. ia berkata, “Rasulullah saw. bersabda,

فَإِذَا أَمَرْتُكُمْ بِأَمْرٍ، فَأْتُوْا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ، وَمَا نَهَيْتُكُمْ عَنْهُ فَاجْتَنِبُوْهُ

“Apabila aku memerintahkan kalian dengan suatu perintah maka tunaikanlah perintah itu sebatas kemampuan kalian, sedangkan apa yang aku larang dari kalian maka jauhilah.”

Kemudian Allah menegaskan perintah untuk berinfak dengan firman-Nya yang maknanya: Jika kalian bersedekah berupa sedekah yang baik dengan ikhlas dan kerelaan hati, maka Allah akan melipatgandakan pahalanya untuk kalian dengan kelipatan yang banyak, Allah juga akan mengampuni dosa-dosa kalian. Allah memberi balasan yang banyak atas perbuatan yang sedikit. Mahasempurna kesyukuran-Nya, artinya Dia membalas ketaatan yang sedikit dengan pahala yang banyak, dan Mahaluas kebijaksanaan-Nya, di mana Dia tidak menyegerakan hukuman atas kemaksiatan.

Firman Allah, “Maha Pembalas Jasa,”merupakan pemberitahuan tentang tindakan Allah yang memberi balasan atas sesuatu, dan bahwa Allah meringankan perkara-perkara besar dari siapa saja yang Dia kehendaki.

Kemudian Allah menambahkan anjuran untuk berinfak: bahwasanya Allah Maha menyeluruh pengetahuan-Nya terhadap apa yang tersembunyi dari kalian dan apa yang tampak nyata bagi kalian, Allah Mahaperkasa lagi Maha Menundukkan, Dia memiliki hikmah yang sempurna, Dia meletakkan segala sesuatu pada tempatnya yang shahih.

Bahwasanya peringatan terhadap fitnah harta dan ketergantungan dengannya, kemudian disampaikannya tiga penegasan untuk berinfak secara berturut-turut dengan gaya bahasa yang berbeda-beda, merupakan pelatihan untuk melepaskan jiwa dari penyakit bakhil dan mendorong jiwa agar menyimpan pahala infak pada jalur kebaikan dan kemaslahatan di sisi Allah, yang mana simpanan-simpanan di sisi-Nya tidak menjadi hilang.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’didalam tafsirnya atas ayat 14-18 tersebut, menjelaskan:

1.   Ayat-ayat di atas (QS. At-Taghaabun: 14-15) adalah peringatan dari Allah Ta’ala untuk orang-orang yang beriman agar tidak terpedaya oleh istri dan anak, karena sebagian dari mereka itu adalah musuh. Dan musuh itu (hakikatnya) adalah orang yang menghendaki kejelekan bagi kalian. Tugas kalian adalah bersikap waspada dari orang yang sifatnya seperti ini. Jiwa diciptakan dengan tabiat mencintai istri dan anak. Karena itu Allah Ta’ala memberikan nasihat untuk para hambaNya agar membatasi rasa cintanya yang tunduk pada kemauan istri dan anak itu, karena di dalamnya terdapat larangan syar’i.

Allah Ta’ala juga mendorong para hambaNya agar menunaikan perintah-perintahNya dan agar lebih mengedepankan ridhaNya, dan lebih mengutamakan akhirat daripada dunia yang fana dan akan lenyap ini. Mengingat larangan untuk menuruti kemauan istri dan anak yang bisa membawa dampak buruk dan peringatan dari hal itu mungkin disalahpahami sebagian orang yang memahami harus bersikap kasar terhadap istri dan anak dan menghukum mereka.Allah memerintahkan mereka agar waspada serta memaafkan mereka, karena dalam hal ini terdapat berbagai maslahat yang tidak terhitung jumlahnya.

Siapa pun yang menunaikan amalan-amalan yang disukai Allah Ta’ala dan menunaikan amalan-amalan yang disukai oleh sesama serta berguna bagi mereka, maka akan mendapatkan cinta Allah dan cinta hamba-hambaNya.

2.  Allah Ta’ala memerintahkan para hambaNya agar bertakwa padaNya, yaitu dengan menunaikan perintah-perintahNya dan menjauhi larangan-laranganNya. Allah Ta’ala membatasi hal itu dengan kadar kemampuan dan kesanggupan. Ayat tersebut (QS. At-Taghaabun: 16) menunjukkan bahwa kewajiban yang tidak mampu dilakukan oleh seorang hamba menjadi gugur. Jika seorang hamba mampu menunaikan sebagian kewajiban dan tidak mampu menunaikan kewajiban lainnya, maka ia cukup menunaikan kewajiban yang mampu dia lakukan, sedangkan kewajiban lainnya yang tidak mampu dilakukan menjadi gugur.

3.   Allah Ta’ala memberi dorongan untuk berinfak (QS. At-Taghaabun: 17) seraya berfirman, “Jika kamu meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik.” Pinjaman yang baik adalah semua nafkah yang berasal dari harta halal yang diberikan oleh seseorang karena mengharap bertemu dengan Allah dan mengalokasikannya pada tempatnya. Pahala nafkah adalah sepuluh kali lipat hingga tujuh ratus kali dan bahkan sampai berlipat-lipat lagi. Kemudian Allah akan memberi ampunan dosa bagi kalian karena infak dan sedekah, karena sesungguhnya kebaikan-kebaikan itu bisa menghapus kesalahan-ke salahan.

ANAK ADALAH FITNAH ALLOH SWT

Al-Qur’an memperingatkan adanya fitnah istri, anak-anak dan harta benda yang bisa menjadi sebab kelalaian dalam mewujudkan ketaatan, dan terkadang menjerumuskan ke dalam kemaksiatan. Sangat sesuai dengan konteks ini bila Allah memerintahkan ketakwaan dan infak di jalan Allah, sebab tindakan tersebut menjadi modal manusia dan jalan untuk membahagiakan dirinya di dunia dan akhirat, Setiap penyakit memiliki obatnya, sedangkan obat bagi penyimpangan adalah bersegera mewujudkan sikap istiqamah dan menetapi jalan lurus amal dan ketaatan. Sebagaimana dijelaskan oleh ayat-ayat berikut,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلادِكُمْ عَدُوًّا لَكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ وَإِنْ تَعْفُوا وَتَصْفَحُوا وَتَغْفِرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ (١٤) إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلادُكُمْ فِتْنَةٌ وَاللَّهُ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ (١٥) فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَاسْمَعُوا وَأَطِيعُوا وَأَنْفِقُوا خَيْرًا لأنْفُسِكُمْ وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ (١٦) إِنْ تُقْرِضُوا اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا يُضَاعِفْهُ لَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ وَاللَّهُ شَكُورٌ حَلِيمٌ (١٧) عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka; dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka), maka sungguh, Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar. Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah dan nafkahkanlah nafkah yang baik untuk dirimu, dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung. Jika kamu meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya Allah melipatgandakan balasannya kepadamu dan mengampuni kamu, dan Allah Maha Pembalas Jasa lagi Maha Penyantun. Yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. At-Taghaabun: 14-18).


Penjelasan (Tafsir)

Tirmidzi, Hakim dan Ibnu Jarir meriwayatkan dari Ibnu Abbas, ia berkata, “Ayat ini, “Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya di antara istri-istrimu.” Turun terkait segolongan penduduk Mekah yang masuk Islam, namun istri dan anak-anak mereka tidak bersedia mereka tinggalkan (untuk berhijrah). Akhirnya mereka sampai ke Madinah. Tatkala mereka menghadap Rasulullah saw., mereka melihat orang-orang (kaum muslimin) telah dipahamkan (dalam urusan agama). Maka mereka bertekad untuk menghukum istri dan anak-anak mereka. Lalu Allah menurunkan ayat, “ dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka)” hingga akhir ayat.

Artinya, sebab turunnya ayat ini adalah bahwasanya segolongan orang beriman kepada Allah, tetapi istri dan anak-anak mereka menahan langkah mereka untuk berhijrah, merekapun tidak berhijrah kecuali setelah sekian waktu berselang. Di Madinah mereka mendapati kaum muslimin selain mereka telah mendalam pemahamannya tentang agama, maka mereka menyesal dan merasa rugi, mereka hendak menghukum istri dan anak-anak.

Wahai orang-orang yang membenarkan Allah dan Rasul-Nya, sesungguhnya sebagian istri dan anak-anak kalian adalah musuh bagi kaliän, permusuhan dalam urusan akhirat, terkait sesuatu yang tidak bermanfaat bagi kalian. Mereka menyibukkan kalian dari kebaikan dan amal saleh yang berguna bagi kalian di akhirat. Maka waspadalah agar cinta dan kasih sayang kalian kepada mereka tidak mempengaruhi ketaatan kalian kepada Allah SWT. Kemudian Allah menganjurkan untuk memberi maaf kepada mereka.

Apabila kalian memaafkan dosa-dosa istri dan anak-anak kalian, kalian menyantuni mereka dengan tidak mencela mereka, kalian juga menutupi kesalahan mereka sebagai pengantar agar mereka meminta maaf atas kesalahan mereka, maka Allah Mahaluas ampunan-Nya terhadap dosa hamba-hamba-Nya, Maha menyeluruh rahmat-Nya bagi mereka, Dia memperlakukan manusia dengan perlakuan yang lebih baik dari apa yang mereka kerjakan.

Kemudian Allah memberitahukan bahwa harta benda dan anak-anak adalah fitnah, yakni media ujian dan cobaan, yang menyibukkan seseorang dari medan petunjuknya, yang mendorongnya untuk lebih mendahulukan dunia daripada akhirat dan terjatuh ke dalam perkara yang tidak terpuji baginya. Dalam hal ini Rasulullah saw. bersabda-seperti yang diriwayatkan oleh Abu Ya’la di dalam kitab musnadnya-,

اَلْوَلَدُ مَبْخْلَةٌ وَمَجْبَنَةٌ

“Anak adalah sesuatu yang menjadikan (orang tuanya) bakhil dan pengecut.”

Dan di sisi Allah terdapat pahala agung bagi orang yang lebih mendahulukan ketaatan kepada Allah dan dia tidak tenggelam di dalam kemaksiatan disebabkan kecintaan terhadap anak dan harta. Ini adalah anjuran untuk bersikap zuhud di dunia dan lebih mementingkan akhirat. Ahmad, Tirmidzi, Hakim, dan Thabrani meriwayatkan dari Ka’b bin Iyadh, ia berkata, “Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda,

إِنَّ لِكُلِّ أُمَّةٍ فِتْنَةٌ، وَإِنَّ فِتْنَةَ أُمَّتِيْ الْمَالُ

“Sesungguhnya masing-masing umat memiliki fitnah, dan sesungguhnya fitnah umatku adalah harta.”

Cara menghindarkan diri dari fitnah

Yaitu dengan ketakwaan dan ketaatan. Maka Allah SWT memerintahkan ketakwaan; yaitu komitmen untuk menunaikan perintah dan menjauhi larangan sesuai kadar kemampuan dan usaha. Allah juga menyuruh untuk mendengarkan perintah dan menaatinya, serta menginfakkan sebagian harta yang dikarunakan Allah kepada hamba pada jalur-jalur kebaikan. Firman Allah, “yang baik untuk dirimu,” manshub karena menjadi obyek firman Allah, “Dan infakkanlah.” Al-khair(kebaikan) di sini maksudnya adalah harta. Atau, ia adalah na’tun (sifat) untuk mashdaryang terhapus. Penjelasannya: infakkanlah dengan infak yang baik. Dan di dalam infak terdapat kebaikan bagi jiwa di dunia dan di akhirat.

Barangsiapa dilindungi dan dijaga oleh Allah dari penyakit kikir (sifat bakhil disertai ketamakan), sehingga ia berinfak di jalan Allah dan jalur-jalur kebaikan, maka merekalah orang-orang yang beruntung dengan mendapatkan segala apa yang mereka inginkan (di surga). Bukhari di dalam kitab Tarikh-nya dan Abu Daud meriwayatkan dari Abu Hurairah r. a. bahwasanya Nabi saw. bersabda,

شَرُّ مَا فِي رَجُلٍ: شُحٌّ هَالِعٌ، وَجُبْنٌ خَالِعٌ

“Seburuk-buruk apa yang ada pada diri seseorang: sifat kikir yang menggelisahkan dan sifat pengecut yang menelanjangi.”

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Sa’id bin Jubair, ia berkata, “Ketika ayat berikut turun, “Bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya.” (QS. Ali ‘Imraan: 102) terasa berat bagi orang-orang untuk mengamalkannya, mereka berdiri (untuk menunaikan shalat) hingga tumit mereka menjadi pegal dan kening mereka terluka. Lalu Allah menurunkan ayat sebagai keringanan bagi kaum muslimin, “Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu.”

Di dalam Ash-Shahihaini disebutkan sebuah hadits dari Abu Hurairah r. a. ia berkata, “Rasulullah saw. bersabda,

فَإِذَا أَمَرْتُكُمْ بِأَمْرٍ، فَأْتُوْا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ، وَمَا نَهَيْتُكُمْ عَنْهُ فَاجْتَنِبُوْهُ

“Apabila aku memerintahkan kalian dengan suatu perintah maka tunaikanlah perintah itu sebatas kemampuan kalian, sedangkan apa yang aku larang dari kalian maka jauhilah.”

Kemudian Allah menegaskan perintah untuk berinfak dengan firman-Nya yang maknanya: Jika kalian bersedekah berupa sedekah yang baik dengan ikhlas dan kerelaan hati, maka Allah akan melipatgandakan pahalanya untuk kalian dengan kelipatan yang banyak, Allah juga akan mengampuni dosa-dosa kalian. Allah memberi balasan yang banyak atas perbuatan yang sedikit. Mahasempurna kesyukuran-Nya, artinya Dia membalas ketaatan yang sedikit dengan pahala yang banyak, dan Mahaluas kebijaksanaan-Nya, di mana Dia tidak menyegerakan hukuman atas kemaksiatan.

Firman Allah, “Maha Pembalas Jasa,”merupakan pemberitahuan tentang tindakan Allah yang memberi balasan atas sesuatu, dan bahwa Allah meringankan perkara-perkara besar dari siapa saja yang Dia kehendaki.

Kemudian Allah menambahkan anjuran untuk berinfak: bahwasanya Allah Maha menyeluruh pengetahuan-Nya terhadap apa yang tersembunyi dari kalian dan apa yang tampak nyata bagi kalian, Allah Mahaperkasa lagi Maha Menundukkan, Dia memiliki hikmah yang sempurna, Dia meletakkan segala sesuatu pada tempatnya yang shahih.

Bahwasanya peringatan terhadap fitnah harta dan ketergantungan dengannya, kemudian disampaikannya tiga penegasan untuk berinfak secara berturut-turut dengan gaya bahasa yang berbeda-beda, merupakan pelatihan untuk melepaskan jiwa dari penyakit bakhil dan mendorong jiwa agar menyimpan pahala infak pada jalur kebaikan dan kemaslahatan di sisi Allah, yang mana simpanan-simpanan di sisi-Nya tidak menjadi hilang.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’didalam tafsirnya atas ayat 14-18 tersebut, menjelaskan:

1.   Ayat-ayat di atas (QS. At-Taghaabun: 14-15) adalah peringatan dari Allah Ta’ala untuk orang-orang yang beriman agar tidak terpedaya oleh istri dan anak, karena sebagian dari mereka itu adalah musuh. Dan musuh itu (hakikatnya) adalah orang yang menghendaki kejelekan bagi kalian. Tugas kalian adalah bersikap waspada dari orang yang sifatnya seperti ini. Jiwa diciptakan dengan tabiat mencintai istri dan anak. Karena itu Allah Ta’ala memberikan nasihat untuk para hambaNya agar membatasi rasa cintanya yang tunduk pada kemauan istri dan anak itu, karena di dalamnya terdapat larangan syar’i.

Allah Ta’ala juga mendorong para hambaNya agar menunaikan perintah-perintahNya dan agar lebih mengedepankan ridhaNya, dan lebih mengutamakan akhirat daripada dunia yang fana dan akan lenyap ini. Mengingat larangan untuk menuruti kemauan istri dan anak yang bisa membawa dampak buruk dan peringatan dari hal itu mungkin disalahpahami sebagian orang yang memahami harus bersikap kasar terhadap istri dan anak dan menghukum mereka.Allah memerintahkan mereka agar waspada serta memaafkan mereka, karena dalam hal ini terdapat berbagai maslahat yang tidak terhitung jumlahnya.

Siapa pun yang menunaikan amalan-amalan yang disukai Allah Ta’ala dan menunaikan amalan-amalan yang disukai oleh sesama serta berguna bagi mereka, maka akan mendapatkan cinta Allah dan cinta hamba-hambaNya.

2.  Allah Ta’ala memerintahkan para hambaNya agar bertakwa padaNya, yaitu dengan menunaikan perintah-perintahNya dan menjauhi larangan-laranganNya. Allah Ta’ala membatasi hal itu dengan kadar kemampuan dan kesanggupan. Ayat tersebut (QS. At-Taghaabun: 16) menunjukkan bahwa kewajiban yang tidak mampu dilakukan oleh seorang hamba menjadi gugur. Jika seorang hamba mampu menunaikan sebagian kewajiban dan tidak mampu menunaikan kewajiban lainnya, maka ia cukup menunaikan kewajiban yang mampu dia lakukan, sedangkan kewajiban lainnya yang tidak mampu dilakukan menjadi gugur.

3.   Allah Ta’ala memberi dorongan untuk berinfak (QS. At-Taghaabun: 17) seraya berfirman, “Jika kamu meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik.” Pinjaman yang baik adalah semua nafkah yang berasal dari harta halal yang diberikan oleh seseorang karena mengharap bertemu dengan Allah dan mengalokasikannya pada tempatnya. Pahala nafkah adalah sepuluh kali lipat hingga tujuh ratus kali dan bahkan sampai berlipat-lipat lagi. Kemudian Allah akan memberi ampunan dosa bagi kalian karena infak dan sedekah, karena sesungguhnya kebaikan-kebaikan itu bisa menghapus kesalahan-ke salahan.

Oleh: Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili

PAHALA SEDEKAH

Al-Imam as-Suyuti menyebutkan dalam salah satu kitabnya bahwa pahala shadaqah itu ada 5 macam:

أَنَّ ثَوَابَ الصَّدَقَةِ خَمْسَةُ أَنْوَاعٍ : وَاحِدَةٌ بِعَشْرَةٍ وَهِيَ عَلَى صَحِيْحِ الْجِسْمِ ، وَوَاحِدَةٌ بِتِسْعِيْنَ وَهِيَ عَلَى الْأَعْمَى وَالْمُبْتَلَى ، وَوَاحِدَةٌ بِتِسْعِمِائَةٍ وَهِيَ عَلَى ذِي قَرَابَةٍ مُحْتَاجٍ ، وَوَاحِدَةٌ بِمِائَةِ أَلْفٍ وَهِيَ عَلَى الْأَبَوَيْنِ ، وَوَاحِدَةٌ بِتِسْعِمِائَةِ أَلْفٍ وَهِيَ عَلَى عَالِمٍ أَوْ فَقِيْهٍ اهـ
(كتاب بغية المسترشدين)

"Sesungguhnya pahala bersedekah itu ada lima kategori :

1) Satu dibalas sepuluh (1:10) yaitu bersedekah kepada orang yang sehat jasmani.

2) Satu dibalas sembilan puluh (1:90) yaitu bersedekah terhadap orang buta, orang cacat atau tertimpa musibah, termasuk anak yatim dan piatu.

3) Satu dibalas sembilan ratus (1:900) yaitu bersedekah kepada kerabat yang sangat membutuhkan.

4) Satu dibalas seratus ribu (1: 100.000) yaitu sedekah kepada kedua orangtua.

5) Satu dibalas sembilan ratus ribu (1 : 900.000) yaitu bersedekah kepada orang yg alim atau ahli fiqih.

[Kitab Bughyatul Musytarsyidin].

Anak-Anak adalah nikmat dari Allah Ta’ala dan pemberian dari-Nya

Anak-Anak adalah nikmat dari Allah Ta’ala dan pemberian dari-Nya

Oleh asy-Syaikh Abdussalam bin Abdullah as-Sulaimani

Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

لِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ يَهَبُ لِمَنْ يَشَاءُ إِنَاثًا وَيَهَبُ لِمَنْ يَشَاءُ الذُّكُورَ. أَوْ يُزَوِّجُهُمْ ذُكْرَانًا وَإِنَاثًا وَيَجْعَلُ مَنْ يَشَاءُ عَقِيمًا إِنَّهُ عَلِيمٌ قَدِيرٌ

“Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi, Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki, Dia memberikan anak-anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki dan memberikan anak-anak lelaki kepada siapa yang Dia kehendaki, atau Dia menganugerahkan kedua jenis laki-laki dan perempuan (kepada siapa yang dikehendaki-Nya), dan Dia menjadikan mandul siapa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa.” (asy-Syura: 49-50)



Anak-anak adalah perhiasan dunia sekaligus fitnah dunia

1. Anak-anak sebagai perhiasan dunia sebagaimana firman Allah Subhanahu wata’ala,

الْمَالُ وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَالْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ خَيْرٌ عِنْدَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَخَيْرٌ أَمَلًا

“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi shalih adalah lebih baik pahalanya di sisi Rabbmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.” (Al-Kahfi: 46)

Di dalam ayat lain Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita dan anak-anak.” (Ali ‘Imran: 14)

2. Anak-anak sebagai fitnah dunia sebagaimana firman Allah Subhanahu wata’ala,

إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلادُكُمْ فِتْنَةٌ وَاللَّهُ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ

“Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu): di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (at-Taghabun: 15)

Demikian pula yang diriwayatkan oleh Buraidah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:
“Suatu ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhutbah di hadapan kami. Tiba-tiba datang Hasan dan Husain radhiyallahu ‘anhuma yang keduanya sedang memakai gamis berwarna merah dan keduanya terjatuh. Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam turun dari mimbarnya dan menggendong keduanya, lalu meletakkan keduanya di hadapannya. Lalu beliau berkata: “Maha benar Allah Subhanahu wa Ta’ala ketika berfirman: ‘Sesungguhnya harta-harta dan anak-anak kalian adalah fitnah (ujian)’. Aku melihat dua anak kecil ini berjalan dan terjatuh, maka aku tidak bersabar, sehingga aku memutus khutbahku dan menggendong keduanya.” Kemudian beliau melanjutkan khutbahnya. (Diriwayatkan oleh Ashabus Sunan, Ahmad, Ibnu Hibban dan yang lainnya, dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’)

3. Sungguh anak-anak bisa menyibukkan (melalaikan) orangtuanya dari ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagaimana firman-Nya,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلا أَوْلادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barang siapa yang membuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang rugi.” (al-Munaafiquun: 9)

Dan Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلادِكُمْ عَدُوًّا لَكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka;” (at-Taghaabun: 14)

Demikian pula tentang anak, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ الْوَلَدَ مَبْخَلَةٌ مَجْبَنَةٌ

“Sesungguhnya anak bisa menyebabkan bakhil (kekikiran) dan pengecut (ketakutan).” (HR. lbnu Majah no. 3666, Al-Hakim dalam Mustadrak, 3/179, Al-Baihaqi, 10/202, Ibnu Abi Syaibah 6/378, Ath-Thabarani, 3/32, dishahihkan Al-Albani rahimahullahu dalam Shahih Al-Jami’)

Anak bisa menyebabkan bakhil manakala orangtuanya menahan (tidak mau) shadaqah karena lebih menyegerakan untuk menafkahi anak-anaknya yang masih kecil. Sedangkan anak bisa menyebabkan pengecut manakala orangtuanya takut berjihad karena takut mati.

Permohonan doa para nabi dan orang-orang shalih demi meminta keturunan

Inilah doa nabi Zakariya Alaihissalam,

هُنَالِكَ دَعَا زَكَرِيَّا رَبَّهُ قَالَ رَبِّ هَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاءِ

“Di sanalah Zakaria mendoa kepada Tuhannya seraya berkata: “Wahai Rabbku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa.” (Ali Imran: 38)

Dan inilah doanya orang-orang shalih,

وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

“Dan orang-orang yang berkata: “Wahai Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (al-Furqaan: 74)

[Dinukil dari Kitab Tarbiyatul Aulad fii Dhaui al-Kitabi wa as-Sunnati, Penulis Abdussalam bin Abdullah as-Sulaimani, Taqdim Syaikh Shalih Fauzan, hal. 11-14]

ANGKA 212

Copas

*ANGKA 212*

_Oleh KH. Anang Rikza Mashadi, MA_

Saya mencoba melakukan penelaahan pada ayat Al Qur’an mengenai angka 212. Maasyaa Allah, saya benar-benar ta’jub dengan arti dari ayat-ayatnya.

#212
QS : 2 : 12

Saya lakukan kepada Al Qur’an Al Hadi keluaran Pusat Kajian Hadis. Kurang lebih begini yang saya dapat:

#212
QS : 2 : 12

أَلَآ إِنَّهُمْ هُمُ ٱلْمُفْسِدُونَ وَلَٰكِن لَّا يَشْعُرُونَ

“Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar.”

#212
Saya lanjutkan lagi dengan QS. 21:2

مَا يَأْتِيهِم مِّن ذِكْرٍ مِّن رَّبِّهِم مُّحْدَثٍ إِلَّا ٱسْتَمَعُوهُ وَهُمْ يَلْعَبُونَ

“Tidak datang kepada mereka suatu ayat Al Quran pun yang baru (di-turunkan) dari Tuhan mereka, melainkan mereka mendengarnya, sedang mereka bermain-main”

Makin terkejut saya dengan arti ayat tersebut. Penasaran berlanjut, ada dua surat dalam Al Qur’an yang mempunyai ayat 212.

QS. 2 : 212

زُيِّنَ لِلَّذِينَ كَفَرُوا۟ ٱلْحَيَوٰةُ ٱلدُّنْيَا وَيَسْخَرُونَ مِنَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ۘ وَٱلَّذِينَ ٱتَّقَوْا۟ فَوْقَهُمْ يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ ۗ وَٱللَّهُ يَرْزُقُ مَن يَشَآءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ

“Kehidupan dunia dijadikan indah dalam pandangan orang-orang kafir, dan mereka memandang hina orang-orang yang beriman. Padahal orang-orang yang bertakwa itu lebih mulia daripada mereka di hari kiamat. Dan Allah memberi rezeki kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya tanpa batas.”

Lalu surat berikutnya ayat 212.

QS. 26 : 212

إِنَّهُمْ عَنِ ٱلسَّمْعِ لَمَعْزُولُونَ

“Sesungguhnya mereka benar-benar dijauhkan daripada mendengar Al Quran itu.”

Kalau dikaji dari ayat-ayat sebelum dan setelahnya (QS.26) malah makin mendekatkan dengan kondisi saat ini.

Kebetulankah? Wallahu a’lam. Yang jelas, makar Allah jelas lebih besar serta lebih hebat daripada makar manusia. Kita cuma diminta beribadah dan berusaha untuk menunjukkan disisi mana kita berada. ( DI/FT/am )

Candoel Al Ghozali

Senin, 16 Oktober 2017

Kisah Non Muslim Taat Yang Masuk Islam

*MOHON MAAF JIKA TDK BERKENAN, SAYA HANYA INGIN BERBAGI INFO*
*copas
Agnes adalah sosok wanita Katolik taat. Setiap malam, ia beserta keluarganya rutin berdo'a bersama. Bahkan, saking taatnya, saat Agnes dilamar Martono, kekasihnya yang beragama Islam, dengan tegas ia mengatakan “Saya lebih mencintai Yesus Kristus dari pada manusia!”

Ketegasan prinsip Katolik yang dipegang wanita itu menggoyahkan Iman Martono yang muslim, namun jarang melakukan ibadah sebagaimana layaknya orang beragama Islam.

Martono pun masuk Katolik, sekedar untuk bisa menikahi Agnes. Tepat tanggal 17 Oktober 1982, mereka melaksanakan pernikahan di Gereja Ignatius, Magelang, Jawa Tengah.

Usai menikah, lalu menyelesaikan kuliahnya di Jogjakarta, Agnes beserta sang suami berangkat ke Bandung, kemudian menetap di salah satu kompleks perumahan di wilayah Timur kota kembang.

Kebahagiaan terasa lengkap menghiasi kehidupan keluarga ini dengan kehadiran tiga makhluk kecil buah hati mereka, yakni: Adi, Icha dan Rio.

Di lingkungan barunya, Agnes terlibat aktif sebagai jemaat Gereja Suryalaya, Buah Batu, Bandung. Demikan pula Martono, sang suami. Selain juga aktif di Gereja, Martono saat itu menduduki jabatan penting, sebagai Kepala Divisi Properti PT Telkom Cisanggarung, Bandung.

Karena Ketaatan mereka memegang iman Katolik, pasangan ini bersama beberapa sahabat se-iman, sengaja mengumpulkan dana dari tetangga sekitar yang beragama Katolik.

Mereka pun berhasil membeli sebuah rumah yang ‘disulap’ menjadi tempat ibadah (Gereja,red).

Uniknya, meski sudah menjadi pemeluk ajaran Katolik, Martono tak melupakan kedua orangtuanya yang beragama Islam. Sebagai manifestasi bakti dan cinta pasangan ini, mereka memberangkatkan ayahanda dan ibundanya Martono ke Mekkah, untuk menunaikan rukun Islam yang kelima.

Hidup harmonis dan berkecukupan mewarnai sekian waktu hari-hari keluarga ini. Sampai satu ketika, kegelisahan menggoncang keduanya.

Syahdan, saat itu, Rio, si bungsu yang sangat mereka sayangi jatuh sakit. Panas suhu badan yang tak kunjung reda, membuat mereka segera melarikan Rio ke salah satu rumah sakit Kristen terkenal di wilayah utara Bandung.

Di rumah sakit, usai dilakukan diagnosa, dokter yang menangani saat itu mengatakan bahwa Rio mengalami kelelahan. Akan tetapi Agnes masih saja gelisah dan takut dengan kondisi anak kesayangannya yang tak kunjung membaik.

Saat dipindahkan ke ruangan ICU, Rio, yang masih terkulai lemah, meminta Martono, sang ayah, untuk memanggil ibundanya yang tengah berada di luar ruangan.

Martono pun keluar ruangan untuk memberitahu Agnes ihwal permintaan putra bungsunya itu.

Namun, Agnes tak mau masuk ke dalam. Ia hanya mengatakan pada Martono, ”Saya sudah tahu.” Itu saja

Martono heran. Ia pun kembali masuk ke ruangan dengan rasa penasaran yang masih menggelayut dalam benak.

Di dalam, Rio berucap, “Tapi udahlah, Papah aja, tidak apa-apa. Pah hidup ini hanya 1 centi. Di sana nggak ada batasnya.”

Sontak, rasa takjub menyergap Martono. Ucapan bocah mungil buah hatinya yang tengah terbaring lemah itu sungguh mengejutkan.

Nasehat kebaikan keluar dari mulutnya seperti orang dewasa yang mengerti agama.

Hingga sore menjelang, Rio kembali berujar, “Pah, Rio mau pulang!”

“Ya, kalau sudah sembuh nanti, kamu boleh pulang sama Papa dan Mama,” jawab Martono.

“Ngga, saya mau pulang sekarang. Papah, Mamah, Rio tunggu di pintu surga!” begitu, ucap Rio, setengah memaksa.

Belum hilang keterkejutan Martono, tiba-tiba ia mendengar bisikan yang meminta dia untuk membimbing membacakan syahadat kepada anaknya. Ia kaget dan bingung.

Tapi perlahan Rio dituntun sang ayah, Martono, membaca syahadat, hingga kedua mata anak bungsunya itu berlinang. Martono hafal syahadat, karena sebelumnya adalah seorang Muslim.

Tak lama setelah itu bisikan kedua terdengar, bahwa setelah Adzan maghrib Rio akan dipanggil sang Pencipta.

Meski tambah terkejut, mendengar bisikan itu, Martono pasrah. Benar saja, 27 Juli 1999, persis saat sayup-sayup Adzan maghrib, berkumandang Rio menghembuskan nafas terakhirnya.

Tiba jenazah Rio di rumah duka, peristiwa aneh lagi-lagi terjadi. Agnes yang masih sedih waktu itu seakan melihat Rio menghampirinya dan berkata,

“Mah saya tidak mau pakai baju jas mau minta dibalut kain putih aja.”

Saran dari seorang pelayat Muslim, bahwa itu adalah pertanda Rio ingin dishalatkan sebagaimana seorang Muslim yang baru meninggal.

Setelah melalui diskusi dan perdebatan diantara keluarga, jenazah Rio kemudian dibalut pakaian, celana dan sepatu yang serba putih kemudian dishalatkan.

Namun, karena banyak pendapat dari keluarga yang tetap harus dimakamkan secara Katolik, jenazah Rio pun akhirnya dimakamkan di Kerkov. Sebuah tempat pemakaman khusus Katolik, di Cimahi, Bandung.

Sepeninggal anaknya Rio, Agnes sering berdiam diri. Satu hari, ia mendengar bisikan ghaib tentang rumah dan mobil.

Bisikan itu berucap, “Rumah adalah rumah Tuhan dan mobil adalah kendaraan menuju Tuhan.” Pada saat itu juga Agnes langsung teringat ucapan mendiang Rio semasa TK dulu,

”Mah, Mbok Atik nanti mau saya belikan rumah dan mobil!” Mbok Atik adalah seorang muslimah yang bertugas merawat Rio di rumah.

Saat itu Agnes menimpali celoteh si bungsu sambil tersenyum, “Kok Mamah ga dikasih?”

“Mamah kan nanti punya sendiri” jawab Rio, singkat.

Entah mengapa, setelah mendengar bisikan itu, Agnes meminta suaminya untuk mengecek ongkos haji waktu itu. Setelah dicek, dana yang dibutuhkan Rp 17.850.000.

Dan yang lebih mengherankan, ketika uang duka dibuka, ternyata jumlah totalnya persis senilai Rp 17.850.000, tidak lebih atau kurang sesenpun.

Hal ini diartikan Agnes sebagai amanat dari Rio untuk menghajikan Mbok Atik, wanita yang sehari-hari merawat Rio di rumah.

Singkat cerita, di tanah suci, Mekkah, Mbok Atik menghubungi Agnes via telepon. Sambil menangis ia menceritakan bahwa di Mekkah ia bertemu Rio. Si bungsu yang baru saja meninggalkan alam dunia itu berpesan,

“Kepergian Rio tak usah terlalu dipikirkan. Rio sangat bahagia disini. Kalo Mama kangen, berdo'a saja.”

Namun, pesan itu tak lantas membuat sang Ibunda tenang. Bahkan Agnes mengalami depresi cukup berat, hingga harus mendapatkan bimbingan dari seorang Psikolog selama 6 bulan.

Satu malam saat tertidur, Agnes dibangunkan oleh suara pria yang berkata, “Buka Alquran surat Yunus!”.

Namun, setelah mencari tahu tentang surat Yunus, tak ada seorang pun temannya yang beragama Islam mengerti kandungan makna di dalamnya.

Bahkan setelah mendapatkan Alquran dari sepupunya, dan membacanya berulang-ulang pun, Agnes tetap tak mendapat jawaban.

“Mau Tuhan apa sih?!” protesnya setengah berteriak, sembari menangis tersungkur ke lantai.

Dinginnya lantai membuat hatinya berangsur tenang, dan spontan berucap “Astaghfirullah.”

Tak lama kemudian, akhirnya Agnes menemukan jawabannya sendiri di surat Yunus ayat 49: “Katakan tiap-tiap umat mempunyai ajal. Jika datang ajal, maka mereka tidak dapat mengundurkannya dan tidak (pula) mendahulukannya”.

Beberapa kejadian aneh yang dialami sepeninggal Rio, membuat Agnes berusaha mempelajari Islam lewat beberapa buku.
Hingga akhirnya wanita penganut Katolik taat ini berkata, “Ya Allah terimalah saya sebagai orang Islam, saya tidak mau di-Islamkan oleh orang lain!”.

Setelah memeluk Islam, Agnes secara sembunyi-sembunyi melakukan shalat. Sementara itu, Martono, suaminya, masih rajin pergi ke gereja. Setiap kali diajak ke gereja Agnes selalu menolak dengan berbagai alasan.

Sampai suatu malam, Martono terbangun karena mendengar isak tangis seorang perempuan. Ketika berusaha mencari sumber suara, betapa kagetnya Martono saat melihat istri tercintanya, Agnes, tengah bersujud dengan menggunakan jaket, celana panjang dan syal yang menutupi aurat tubuhnya.

“Lho kok Mamah shalat,” tanya Martono.

“Maafkan saya, Pah. Saya duluan, Papah saya tinggalkan,” jawab Agnes lirih. Ia pasrah akan segala resiko yang harus ditanggung, bahkan perceraian sekalipun.

Martono pun Akhirnya Kembali ke Islam
Sejak keputusan sang istri memeluk Islam, Martono seperti berada di persimpangan.

Satu hari, 17 Agustus 2000, Agnes mengantar Adi, putra pertamanya untuk mengikuti lomba Adzan yang diadakan panitia Agustus-an di lingkungan tempat mereka tinggal.

Adi sendiri tiba-tiba tertarik untuk mengikuti lomba Adzan beberapa hari sebelumnya, meski ia masih Katolik dan berstatus sebagai pelajar di SMA Santa Maria, Bandung.

Martono sebetulnya juga diajak ke arena perlombaan, namun menolak dengan alasan harus mengikuti upacara di kantor.

Di tempat lomba yang diikuti 33 peserta itu, Gangsa Raharjo, Psikolog Agnes, berpesan kepada Adi, “Niatkan suara adzan bukan hanya untuk orang yang ada di sekitarmu, tetapi niatkan untuk semesta alam!” ujarnya.

Hasilnya, suara Adzan Adi yang lepas nan merdu, mengalun syahdu, mengundang keheningan dan kekhusyukan siapapun yang mendengar. Hingga bulir-bulir air mata pun mengalir tak terbendung, basahi pipi sang Ibunda tercinta yang larut dalam haru dan bahagia.

Tak pelak, panitia pun menobatkan Adi sebagai juara pertama, menyisihkan 33 peserta lainnya.

Usai lomba Agnes dan Adi bersegera pulang. Tiba di rumah, kejutan lain tengah menanti mereka. Saat baru saja membuka pintu kamar, Agnes terkejut melihat Martono, sang suami, tengah melaksanakan shalat. Ia pun spontan terkulai lemah di hadapan suaminya itu.

Selesai shalat, Martono langsung meraih sang istri dan mendekapnya erat. Sambil berderai air mata, ia berucap lirih, “Mah, sekarang Papah sudah masuk Islam.”

Mengetahui hal itu, Adi dan Icha, putra-putri mereka pun mengikuti jejak ayah dan ibunya, memeluk Islam.

Perjalanan panjang yang sungguh mengharu biru. Keluarga ini pun akhirnya memulai babak baru sebagai penganut Muslim yang taat.

Hingga kini, esok, dan sampai akhir zaman. Insya Allah.

Pak Martono SH beliau dulu waktu Dirut Telkom jaman nya Pak Cacuk, bertugas sbg Kasekper, Ka Inditor, Kadiv Properti.
Setelah kembali moslem Beliau mewakafkan 7 ha tanahnya untuk pesantren Baitul Hidayah di Bandung. *Subhanallah.*

*ALLAH MAHA PENYAYANG KEPADA HAMBA-NYA....*

Kisah fakta.... tolong sebarkan... bagian da'wah kita.... jangan berhenti di tangan anda
والسلام عليكم ورحمةالله وبركاته
١٩-٠٢-٢٠١٧ دارى مارويا ...  بدر زمان

Rabu, 13 September 2017

PUTRA PUTRI SAYYID SYEH MUZAKKI (Bujuk Batukolong)

Putra putri kiai muzakki
1-Kyai Sarsi/Bindereh Ghazali (Kolak, Sukolilo, Bangkalan)
2-Kyai Shalihan/Bindereh Qoribullah/Bujuk Kajuh Rajeh (Tambak Agung)
3-Kyai Serukdin (Masjid Timur Jalan Durjen)
4-Bindereh Ghindah (Kolpoh Ba'engas)
5-Nyai Jelek (Tambak Agung)
6-Nyai Arsiman (Parombesan Petapan)
7-Nyai Atus (Brumbung Klampis)
8-Nyai Si'ah/Syari'ah (Kwanyar)
9-Nyai Kafiya/Fiya (Tamansari Batokolong)*
10-Nyai Jamilah/Mila (Lempong Sanggra Agung)
11-Nyai Tutik Aran Sriyadi
12-Nyai Jubek Aran Nursimah (Kwanyar)
13-Bindereh Sohib/Kyai Taman (Bujuk Sohih Binteng Tlokoh)
14-Bindereh Mi'ad
15-Kyai Sholihah/Batokolong Anom (Labeng Agung Sambiyan Konang)
16-Nyai Karsi
17-Nyai Muna/Maimuna/Bujuk Gelang
18-Nyai Nursi
19-Bindereh Mista (Sukolilo Timur Lebang)
20-Bindereh Abdul (Parseh Banyu Ajuh Kamal)
21-Kyai Kamil/Amil Keteleng Tanah Merah Bangkalan)
22-Nyai Ratnasi (Kramat Petapan)
23-Nyai Zainab
24-Nyai Toyyib (Berengan Kebun Ajib Sukolilo Timur)
25-Nyai Mukjizat/Nyai Alimuddin (Cangkarman Konang Bangkalan)
26-Bindereh Rouf
27-Kyai Abdul Karim/Bindereh Minhu (Pakholwatan Senasen Bangkalan)
28-Nyai Kamsina (Moarah Klampis)
29-Bindereh Drurroh/Syeh Abu Dzarrin/Mbah Tanjung (Tlogowatu Malang)
30-Bindereh Mufidz (Kampung Penyanyren Banyuajuh Kamal)
31-Nyai Nami
32-Bindereh Mariyun (Arah Berrut)
33-Nyai Ariyah (Maddewungan)
34-Bindereh Matlap/Kyai Mucangan (Pucangan Pasuruan)
35-Bindereh Ambiyek
36-Kyai Rahmat (Mandung Palean Kokop Bangkalan)
37-Bujuk Mangsar (Banyu Anyar Lomaer)
38-Nyai Ruwaida/Bujuk Kokap (Olor Banyuates Sampang)
39-Kyai Sirron (Toroi Terosan Banyuates Sampang)
40-Nyai Marisa/Marsi Ponok (Terrosan Banyuates Sampang)
41-Kyai Qiyam Leke (Sokobenah Sampang)
42-Kyai Jenun (Terrosan Banyuates Sampang)
43-Kyai Sholeh (Lembung Gunung)
44-Kyai Ismail (Labeng Agung Sambiyan Konang)
45-Kyai Abdul Alim (Mandung Palean Kokop Bangkalan)
46-Kyai Anifa (Senasen Konang Bangkalan)*
47-Janiba (Senasen Konang Bangkalan)*
48-Nyai Intan (Durjen Bangkalan)
49-Nyai Sa'adah/Bujuk Moddung (Tanjung Bumi, Bangkalan)
50-Bindereh Mukhtar Nyancangan (Larangan, Tanjung Bumi)
51-Nyai Bujuk Dughung (Durjen, Kokop)
52-Nyai Arumi/istri Sayyid muhammad Ali basyaiban (Konang Timur Bangkalan)
53-Nyai Daningsih (Manua'an Kokop Bangkalan)
54-Nyai Khodijah (Budengan Bumiayu Utara Malang
55-Nyai Sayyidin (Renteng Turen Malang)
56-Nyai Abidin (Batokolong Senasen)
57-Kyai Muharram (Plenggiran Tanjung Bumi Bangkalan)
58-Kyai Tarsyisy / Bujuk Eler (Tambak Eler Banyuates Sampang)
59-Nyai Sinar Pangarun (Gunung Jenar Banjarmasin)
60-Kyai Lukmar (Purwosari Pasuruan)
61-Kyai Khabsi (Debung Macajeh Tanjung Bumi)
62-Nyai Bujuk Kanderuh (Tambelengan Sampang)
63-Nyai Aqrab (Dengbigih Mor Angsanah Mandung Kokop)
64-Nyai Maryam/Bujuk Rette (Konang Bangkalan)
65-Nyai Fatimah/Bujuk Subin (Sambiyan Konang Bangkalan)*
66-Kyai Jakfar Shodik (Gelis Dejeh)
67-Bujuk Uwing (Lantek Temor Gelis)
68-Bujuk Gibeng (Lantek Temor Galis)
69-Kyai Alfan/Bujuk Pantok (Cangkarman)*
70-Bujuk Ghoroh (Pangereman Ketapang Sampang)
71-Kyai Surat/Bujuk Terem (Sokobenah Sampang)
72-Nyai Ibrohim/Bujuk Gledek
73-Nyai Abdul Karim (Taman Sambiyan) 

Update pada hari Senin, 17 Mei 2021